Aku nemu sebuah tulisan di koran Kompas hari ini (14 feb 2009) yang sangat inspiratif. hal 5 judulnya melihat lebih jauh oleh Herry Tjahjono. Salut kepada penulis dan koran Kompas atas tulisannya dan semoga tidak keberatan aku kutip di sini, karena aku merasa ini bermaanfaat banget buat diketahui banyak orang Versi lengkap artikel tersebut aku dapat setelah googling dari alamat berikut dan aku copy lagi di bawah
http://yalun.wordpress.com/2009/02/14/melihat-lebih-jauh/
Melihat lebih jauh
oleh: Herry Tjahjono
Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.
Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu.
Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.
Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak. Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job! Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu ”memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim. Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing. Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.
Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist & President The XO Way, Jakarta
Just got the news that Drupadi is officially invited to hv the screening in Hongkong Film festival March-April 2009. So excited to hear that. Thx to all.
Notes : ini tulisanku yg semula dibuat sebagai salah satu dari rangkaian promo film Drupadi, Namun karena satu sebab, tidak jadi dipublikasikan dan aku putuskan untuk dmuat di blog saja. Terima kasih kepada mbak Leila S. Chudori yang membantu mengedit dan merapikan bahasa :)
Perempuan dan Film
oleh Dian Sastrowardoyo
Sebagai seorang perempuan saya menyadari betapa dekatnya saya dengan film. Bukan hanya sebagai pekerja film, tetapi juga sebagai penikmat film sebagai oksigen hidup saya. Bagi saya, banyak sekali fase dalam kehidupan seorang perempuan yang bisa dirayakan dengan menyaksikan sebuah film. Saat saya tengah ’down tempo’ (ini terminologi yang saya gunakan bersama teman-teman ketika kami memerlukan ’asupan semangat’) misalnya, saya pasti menghabiskan waktu luang saya untuk menyaksikan sederet feel good movie bersama teman-teman saya. Inilah serangkaian film yang memang dibuat untuk pasar penonton perempuan yang sedang merasa perlu diingatkan bahwa mereka pasti bisa melalui semuanya.
Serangkaian judul film yang pernah menjadi menu girls movie night kami antara lain adalah: The Sweetest Thing (Roger Kumble, 2002 ), Shop Girl (anand tucker 2005,) Sex And The City (Michael Patrick King, 2008) bahkan Charlie’s Angels : the movie, (McG 2000). Walaupun itu adalah film-film ringan, namun cukup efektif untuk membuat kami lebih optimistis saat membaca credit tittle di penghujung film. Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials, untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki (terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah riuh rendahnya hidup hanya dengan bermodalkan stok koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak menciptakan sebuah renungan tentang hidup.
Namun, selain pengisi jiwa, di dunia industri, film juga memiliki pengaruh yang luar biasa. Jika kita meneropong gaya hidup perempuan melintasi masa misalnya, film dapat menjadi sumber yang sangat mudah untuk dijadikan referensi. Dari perspektif perkembangan fashion dan gaya hidup, kita sudah bisa menjejerkan beberapa judul film yang berhasil menangkap detail fashion dan gaya hidup yang sangat menarik seperti The Devil Wears Prada (David frankel,2006); Sex & The City (Michael Patrick King, 2008), Marie Antoniette (sofia coppola, 2006), Darlings, pret a porter : ready to wear (robert altman, 1994) dan Annie Hall (Woody Allen, 1977). Film telah menjadi artefak budaya yang selalu menjadi ’teks’, dimana kita di dalamnya, kita ’membaca’ atau memahami lebih jauh mengenai kebudayaan manusia. Dalam hal ini, ’teks’ dalam film kita lihat sebagai isi (content) yang kompleks dari kejadian-kejadian (gambar, kata, bunyi) yang berhubungan satu sama lain didalam sebuah konteks yang bisa menjadi cerita atau narasi. Namun marilah kita coba melihat lebih dalam lagi tentang bagaimana film selama ini mempersepsikan perempuan.
Perempuan sebagai objek di dalam Film
Apa yang kita bayangkan dari film-film seperti James Bond, Scream, I Know What You Did Last Summer, American Pie, Bourne Ultimatum? Film-film ini menggambarkan perempuan dengan keindahan fisik yang luar biasa (yang biasanya jauh sekali dari penampilan perempuan sehari-hari), dengan wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna, dan dengan baju dan penampilan yang sengaja memfokuskan pada keindahan tubuh tertentu. Buah dada yang besar, kaki luar biasa jenjang dan rambut bak mayang terurai adalah penampilan dari figur perempuan yang menjadi resep membuat film yang laku di pasaran. Di dalam film, perempuan sering sekali digambarkan sebagai pemanis, penghias, dan tidak memiliki urgensi kepentingan peran apapun terhadap jalan cerita keseluruhan. Mereka muncul sebagai sosok yang perlu diselamatkan atau ditolong. Ini adalah sudut pandang pembuatan film yang sangat patriarkis, atau lebih parah lagi bersifat phallocentric. Film-film ini menggunakan sudut pandang laki-laki. Maksudnya adalah bahwa yang membuat film ini mengandaikan bahwa yang menonton film itu adalah laki-laki semua, atau cerita yang digarap menggunakan cara pikir laki-laki. Yang menarik dalam hal ini adalah: bagaimana penonton film menyaksikan film yang berlogika maskulin, ini berarti membuat perempuan membaca teks yang tidak bisa menggambarkan perempuan secara utuh. Perempuan dilihat hanya sebatas definisi fisiknya saja: memiliki tubuh dengan buah dada, pinggang yang kecil, kaki yang ramping dan rambut panjang. Sementara perempuan sebenarnya jauh lebih plural daripada definisi yang sederhana itu. Ada banyak sekali dimensi kehidupan, karakter dan cara pikir perempuan yang tentunya tidak akan dipahami oleh sang pembuat film yang maskulin itu, karena tentunya mereka tidak pernah mempunyai pengalaman hidup sebagai perempuan.
Yang kurang menguntungkan bagi kita adalah para penonton perempuan saat menonton film sejenis ini menjadi terbiasa membaca diri nya sendiri dengan sudut pandang laki-laki; dari sebuah sudut pandang yang meredusir atau menyederhanakan sosok perempuan. Perempuan hanya didefinisikan dari fisik belaka. Pada gilirannya, kitapun mengukur ke-‘perempuan’an kita sebatas penampilan fisik saja, sehingga kita sebagai kaum perempuan di zaman modern ini jadi terlalu repot dan terlalu sibuk mendefinisikan diri kita sebagai perempuan melalui segi penampilan fisik. Karena kita terlanjur memiliki peikiran bahwa definisi fisik adalahlah satu-satunya definisi yang menjadikan kita perempuan, maka kita terlalu sadar diri (self-conscious) terhadap bentuk tubuh kita(apakah kulit saya cukup normal untuk kulit ‘perempuan’? rambut saya cukup ‘perempuan’? apakah bentuk kaki atau lengan saya cukup ‘perempuan’? apakah buah dada saya cukup ukurannya sehingga cukup ‘sah’ untuk menjadikan saya ‘perempuan’?). Tanpa kita sadari kita terlalu banyak menghabiskan energi, waktu, dan uang demi merawat bahkan memodifikasi bentuk tubuh yang kita miliki. Kita lupa dengan multi dimensi lain yang dimiliki oleh perempuan.
Namun kabar baik bagi para penonton perempuan adalah, saat ini telah lahir sineas perempuan yang memiliki wewenang untuk menentukan isi film yang menggambarkan komplesitas perempuan.
Perempuan yang menciptakan teks tentang perempuan.
Seorang sutradara perempuan, penulis skenario perempuan, produser perempuan memiliki kuasa atau wewenang untuk menciptakan representasi perempuan yang melawan sistem patriarkis. Melalui film-film seperti ini, para penonton perempuan dapat ‘membaca’ teks yang karya sineas perempuan juga. Kita jadi dapat lebih mengerti diri kita sebagai perempuan dengan melihat bagaimana perempuan lain mencoba menulis tentang dirinya atau tentang apa yang dia pahami tentang perempuan, tentunya lengkap dengan berbagai aspek yang multi dimensional akan menjadi seorang perempuan.
Film-film yang mampu berbicara yang lahir dari sineas perempuan adalah The Piano (Jane Campion, 1993), Monster (Patty Jenkins, 2003), Virgin Suicides(Sofia Coppola, 1999), Lost in Translation (Sofia Coppola, 2003), Monalisa Smile (mike newell, 2003) ,Frida (Julie Taymor,2002)
Sementara beruntunglah kita, di Indonesia walaupun dunia film masih tergolong baru lahir, banyak juga tokoh sineas perempuan yang langsung ikut mewarnai menu perfilman nasional: Nan T. Achnas dengan film Pasir Berbisik (2001), Nia Dinata dan kawan-kawan dengan rangkaian film pendek “Perempuan Punya Cerita (2007).
Dengan dosis sehat menonton film perempuan seperti ini, kita jadi tidak terjebak dalam definisi dangkal yang itu-itu saja dalam memaknai diri kita masing-masing sebagai kaum perempuan. Kita juga dapat lebih menghormati ke’perempuan’an kita yang lebih utuh yang lebih lengkap dengan multi dimensi kehidupan kita dengan berbagai peran dan tantangannya. Kita dapat lebih berani menciptakan definisi diri kita sendiri yang lebih independen, tidak lagi bergantung pada peradaban patriarki untuk memberikan definisi mereka yang terbatas untuk menandai kita perempuan, tidak lagi tunduk dengan pendapat yang diberikan dari luar tetapi lebih mandiri untuk menciptakan pendapat dari dalam. Mari kita membebaskan diri dari sistem penandaan maskulin, mari kita ciptakan sendiri logika dan cara berpikir feminin yang bebas dari judgement, dogma, cara pandang yang misoginis.
____
beberapa film unik pilihan Dian Sastrowardoyo untuk dinikmati bersama cocktail & nibbles kegemaran di rumah ;
I found an organics ad i’ve done long time ago ( for Thailand country) in youtube. The ad that I never watched it before.
I guess I understand why Thomas L. Friedman said that the world is flat now, and ( corrected by ) Pak Hermawan Kartajaya ” the world is still round, the market is already flat”
as the net is a borderless world, everybody who has an access to the net, has the same opportunity to fail or succeed in almost everything. don’t you think, in a way, internet is more democratic than real life?
disclaimer
first, I don’t remember when exactly i wrote this n why i kept it in unpublished folder More »
Kadang-kadang suka ada yang terheran heran dan kasih comment negatif tentang fotoku yang berpose dengan sebatang rokok. Aku juga jadi heran…, kalo aku bisa berpose sok manis dan sok imut, kenapa aku nggak bisa berpose sok sangar dan sok jantan? Aku rasa susah juga ya…, itu baru pose foto, aku kan juga seorang aktor. Aktor yang baik juga harus bisa mengeksplorasi berbagai karakter bahkan sampai yang ada di luar dirinya. Saya juga nggak mau dijadikan aktor yang punya stereotype peran-peran baik-baik ituuu itu saja. Menurutku kepribadian manusia itu cukup luas dan cukup kompleks. Jadi susah kalau cuma didefinisikan atau diwakili dengan satu definisi saja. Manusia itu siapa pun juga, dia itu plural, ya baik ya jahat, ya cakep ya ada jeleknya juga, ya nyenengin ya ada nyebelinnya juga… Ada kelemahan dan ada kelebihan juga. Begitu juga kita sebagai orang luar, aku rasa akan terlalu gegabah jika kita terlalu cepat mengambil keputusan tentang seseorang jika kita cuma menilai kulit penampilannya saja. “Lihatlah lebih dekat…” kata-kata Sherina di lagunya.. Belum tentu orang yang kita judge buruk nggak punya pertimbangan dalam hatinya. Luce Irigaray bilang: perempuan(manusia) itu plural….. tidak bisa kita kerdilkan menjadi satu definisi saja. Kita perlu tau dulu seseorang, ngobrol berjamjam, berhari-hari, barulah kita mengenal orang itu luar dalam.
Anyway…, tapi apa pun pendapatku, aku juga sebenernya sangat menghargai honest opinion dari mereka yang berseberangan pendapat dengan aku. Aku mau berterimakasih atas opini jujurnya, karena saya sangat tidak menyukai keseragaman! Dan perbedaan pendapat adalah diskusi yang sehat. Cheers!
Dari kemaren, kita udah muter2 ke 6 kota. Jogjakarta, Bandung, Banjarmasin, Palembang, dan kemaren Surabaya. Team kita makin solid. Selalu ada acara sharing dengan para pemenang wirausaha muda mandiri taun lalu. Kalo nggak si Saptu, si Hendy, atau Elang. Mereka adalah entrepreneur entrepreneur muda yang patut diacungi jempol. Ketemu sama orang2 seperti itu menarik banget, bikin gue banyak belajar juga. Nggak cuma itu, pembicara-pembicara yang muncul di acara-acara wmm seperti itu menarik semua. Kadang-kadang, salah satunya Pak Ciputra, Renal Kasali, dan Pak Dorojatun Kuntjorojakti, mereka ada yang menceritakan pengalaman perjuangan mereka meniti dari usaha kecil, ada juga yang memberikan materi yang sudah disiapkan sebelumnya. Hebat sekali. Gue bener2 beruntung punya kesempatan untuk acara ini. Banyak banget ilmunya asli! Apalagi gue ada temen cemonk si Tika(Artika Sari Devi) yang selalu kompak ngerumpi, sambil ngebahas teori-teorinya pembicara-pembicara yang dateng. Ini mungkin adalah keluarga baru gue, termasuk anak-anak Indonesia 5 dan juga team Bank Mandiri, yang selalu kompak bekerja sama dalam mewujudkan acara buat anak-anak mahasiswa ini.
Setiap kali abis acara, kita selalu makannya sama-sama. Seperti waktu di Banjarmasin, kita makan sama-sama di restoran khas makanan Banjar, makan ikan seluang sama udang sungai. Yang ternyata menu yang sama dapat juga ditemukan di Palembang, ikan seluang dan udang sungai. Ternyata karena dua-duanya punya sungai besar. Dan di Banjarmasin, yang paling berkesan adalah saat kita makan duren rame-rame di kantor cabang Banjarmasin, bersama Pak Suko, team mikro Bisnis Mandiri: Mbak Nina dan Mbak Lisa, beserta temen bank Mandiri cabang Banjarmasin. Haduuuh,… Tika-tika….. dia masih aja kuat makan duren terus sampe buah keenam, sementara diriku udah nggak kuat bantuin makan duren di buah ke empat. Durennya manis banget! Enak! Di Banjarmasin juga enaknya ketemu sama tante Utie, sepupunya mama yang tinggal disitu karena ikut tugas suaminya.
Guys, kenalin temen gue Saptuari Sugiharto. Dia ini bosnya Kedai Digital, dia adalah founder dan owner dari kedai digital empire, yang kini sudah ada di beberapa kota. Kalo mau liat check sendiri www.kedaidigital.com. Terakhir kali di Palembang dalam salah satu tour Wirausaha Muda Mandiri, Saptu, Tika, anak2 Indonesia5, dan staff mikro bisnis BankMandiri ngasih surprise buat aku. Tiba2 mahasiswa unsri diajak tepuk tangan rame2 dan nyanyi Happy Birthday buat aku dipanggung. Kue ulang taun muncul out of no where, terus Saptu tiba2 menyerahkan hadiah yang udah dia siapin sebelumnya. Jam produksi Kedai Digital!!! Hebat sekali. Kedai digital memang kedai unik yang merayakan sesuatu yang instingtif ada pada setiap manusia: narsisme! Di kedai digital, semua orang bisa bikin merchandise dengan potret dirinya sendiri.
Jalan-jalan ke Petak Sembilan deket Glodok ada pasar tradisional yang buka dari pagi. Hari Sabtu pagi kalo jalan2 kesana pemandangannya menarik bisa foto-foto makanannya enak-enak, termasuk combro yang gurih dan pedes banget!!!!! dan tentunya Cakwe yang dijual di jl. Kemenangan.
Berhubung week end kemarin tuh sekalian ada imlekan, rasanya weekendnya datang lebih cepat, dari hari Kamis.., seterusnya aku meliburkan diri.., huuhuuuhuuu ngerasa bersalah siiih nggak buka komputer dan ngebalesin komen2…, huuhuuhuu maaf yaaahhhh…, diriku lagi keseruan nonton film!! Padahal ide posting udah lumayan banyak.
Pertama-tama, hari jum’at ke blitz terus nonton The Fall. Sumpah film itu buwagus buwangeetttt!!!! mengharu biru, terharu haru…, sekalian tertawa tergeli geli.., anak kecil itu kaya nggak nyadar ada kamera lagi rolling di depannya. Dia garuk2 kepala, nguap, sama gosek-gosek idung sesukanya, luuucuuuuuu sekali!!!! aduh aduh aduh anak ketjil itu benar2 menggemaskan!! Ceritanya cerita dongeng yang lucu.., cerita tentang anak kecil yang suka nimpukin pastor dengan jeruk diem-diem.. huahhahaha terus dia ketauan sama pasien muda di barak bawah, seorang Stuntman film yang cedera. Tapi akting anak ituu aduh aduh nggemesin banget! Kalo bohong mukanya lucu banget! pipinya gendut gembil kaya mau tumpah… Aku pengen nonton film itu seribu kali lagi(oke berlebihan)
Kedua, aku jalan-jalan ke Aksara, ternyata Vogue UK, dan Elle UK udah terbit lagi, yeay! dan ternyata kamera LOMO yang DIANA udah keluar yang pake flash!!!! geela!!! sial.., aku langsung penegn jual DIAN+ jadi aku nanti beli DIANA F+… hueheheheh (gimana ada yang mau beli?) Dan yang menggemaskan lagi! HOLGA ternyata ngeluarin kamera pin hole (yang 120 medium format) dan juga yang 35mm!!! yang 35mm ada yang kamera pinhole, dan ada yang HOLGA biasa. Dan kata temenku yang ahli lomo, flash nya DIANA bisa multi warna dan bisa dipakein ke HOLGA juga!!!!! Aduuuuh… godaan berat nih..
Terus akhirnya gue membeli sebuah majalah Bandung yang menarik sekali: JEUNE artistiknya design grafisnya menarik sekali, out of the box! tapi konon agak susah untuk didapatkan di Jakarta.
Aku meninggalkan aksara dengan sebuah 3 buah majalah dan sebuah CD dari band Efek Rumah Kaca. Asli liriknya kocak juga… kik kik kik…