hanya ada di Yogya
Patung Nyi Chondrolukito, pesinden terkenal; mural art di fly over lempuyangan; d’omah backyard Tembi
Pasar Legi Kotagede sabtu pagi
lupis n me
dari pasar ke pasar, legi ke bantul
di panti asuhan yatim putri, jalan pramuka-giwangan. Aku suka tanggapan anak-anak panti, pinter, aktif dan berani, kanan bawah bersama 10 volunteer yang mengajar berbagai keterampilan
ini dia salah satu tempat makan favoritku di Jogya
sate klathak dan tongseng untuk makan siang
Akhir pekan kemaren aku diundang Tim Lux utk berpartisipasi dalam program CSR ‘berikan sentuhan cantikmu’ ke Kudus, Jawa Tengah. Sebenarnya program ini sudah berjalan dari beberapa bulan sebelumnya dan ini adalah kota ke-8 , namun buatku ini adalah kota pertama yang aku ikuti. Di kota sebelumnya (kalau gak salah ada Bogor, Sukabumi,Tasikmalaya,Pekalongan, Kuningan dan sisanya aku lupa) Tamara dan Luna yang ikutan. kegiatan ini sengaja diadakan bukan di kota-kota besar supaya lebih impactful dan bermanfaat langsung, karena kalo di kota-kota besar kegiatan seperti ini bukanlah hal baru.
Dari Semarang ke Kudus, sebenarnya jaraknya cuma 40 km. Namun karena kondisi jalan yang banyak perbaikan, jarak tempuh menjadi 2 jam lebih,
Ini pertama kali aku ke Kudus, dan sebelumnya aku cuma familiar dengan nama Sunan Kudus, pabrik rokok Djarum dan Soto-nya :) Ternyata aku dapat beberapa info baru.misalnya di sini terkenal dengan sate kerbau dan jarang sekali ada masakan dari daging sapi, konon waktu jaman Sunan Kudus dulu sapi itu tidak boleh dipotong karena keramat (?) (sekali lagi konon, jadi aku gak tahu versi aslinya, buat yang lebih tahu sejarahnya silakan share ya karena aku juga penasaran). Terus ada dodol kudus (yang buatku terlalu manis), dan sepanjang jalan banyak rumah khas dengan ornamen atap yang menarik, sayang aku gak sempat motretin karena masih ngantuk ( harus bangun pagi buat mengejar pesawat pertama dari Jakarta ke Semarang, jadinya lebih memilih mencoba tidur lagi di mobil.)
Acara Lux sendiri sebenarnya simple,gabungan antara program CSR dan apresiasi kepada pelanggan setia Lux. Kami mendatangi beberapa pasar tradisional dan supermarket dan berdialog langsung dengan pengunjung dan juga kunjungan ke Panti Asuhan. selain memberi sumbangan,Pihak Lux bersama-sama 10 volunteer perempuan dari kota Kudus juga memberikan semacam workshop kecil-kecilan tentang membangkitkan percaya diri dan kewirausahaan.
dr kiri atas : liat truk minyak tanah yang mengiklankan pentingnya gas hehehe;liat satu rumah tua di jl. a yani kudus (dibangun th 1836) yang berubah fungsi menjadi FO;ini namanya garang asam before n after,so yummy! ;kebetulan pas ada pameran produk unggulan dari kudus, aku gak tahu dr limbah apa ya keranjang ini
makan soto kudus di kudus,ibu ramidjan taman bojana yang katanya sudah berjualan lebih dari 30 tahun.
pasar jember yang di kudus,dan di panti asuhan aisyiyah (mohon maaf kalo salah tulis)
Sometimes ago, I and Melissa Karim were invited by l’oreal Professionnel to attend its 100 years celebration.Beruntung kami bisa hadir dalam sebuah perayaan besar dari brand yg telah menjadi living heritage kota paris sendiri
things that i like
spt biasa (show off) time
dari presentasi tentang visi l’oreal ke depan di malam perayaan 100 tahun l’oreal. grafis-nya cantik.
beberapa slideshow dan hairshow event dari top hairdresser dunia
Dari beberapa comment tentang posting-an roadshow WMM, yang paling banyak adalah pertanyaan: apa sih WMM itu? dan gue sebenarnya di situ ngapain?
Rasanya kurang fair kalo gak cerita dari awal ya. The basic problem is: gue punya banyak bahan untuk ditulis, tapi untuk memindahkan isi kepala gue ke tulisan di blog, rasanya butuh perjuangan sendiri, nyari waktu di antara hal-hal lain yang harus gue kerjain juga ( another excuse of being a not–so-organized person-a.k.a pemuaaalas hohoho)
WMM atau wirausaha muda mandiri adalah program CSR(corporate social responsibility) Bank Mandiri yang intinya mengajak generasi muda, terutama dari kalangan mahasiswa, untuk mengubah mindset dari nyari kerja setelah lulus, jadi menciptakan lapangan kerja dengan jadi wirausaha( istilah kerennya “entrepreneur” lah)
Kenapa gue jadi bisa ikutan di dalam program ini adalah karena pertama-tama gue jadi MC buat acara awarding night Wirausaha Muda Mandiri, kalo gak salah bulan Oktober (atau November ya?). Ternyata sebelumnya ada workshop-nya juga (yang ternyata keren banget dan gue nyesel abis gak ikutan). Bayangin, pembicaranya top semua: Hermawan Kertajaya, TP Rachmat, Bapak Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Ir. Ciputra, dll
Nah, di acara itu, gue dapat info yang bikin gue kaget banget. Ir. Ciputra bilang bahwa: buat jadi negara maju, diperlukan paling sedikit 2% dari penduduknya adalah entrepreneur. Kalo nggak salah*, di Singapore ada sekitar 7 %, Amerika punya 5 %, SEMENTARA di Indonesia?????………Cuma kurang dari 0,18 % saja yang entrepreneur. Fakta ini cukup membuka pandangan gue tentang hal ini, karena terus gue baru tau bahwa bisnis-bisnis kecil, bisnis mikro, atau usaha-usaha kecil menengah itu adalah jajaran terdepan dalam perekonomian suatu negara. Sebelumnya gue mikirnya kata ‘enterepreneur itu hanya berlaku untuk pengusaha-pengusaha besar yang udah jadi konglomerat gitu. Sejak itu, gue antusias banget bahwa angka kurang dari 0,18% itu harus berubah, harus naik.
Sekitar sebulanan kemudian, mbak Nina dari Bank Mandiri menghubungi mas Wisnu dan menanyakan kemungkinan kerja bareng sebagai duta program WMM. Of course gue seneng banget dan langsung setuju. Tadinya gue sempat berpikir, setelah workshop waktu itu, apa lagi kelanjutannya ya bank Mandiri dalam mewujudkan rencananya untuk mencetak wirausahawan-wirausahawan muda? Maksud gue, setelah faktanya dijabarkan, ada nggak sih solusi atau opsi untuk keluar dari masalah itu? Ternyata, mereka serius banget mikirin dan hasilnya adalah program WMM ini.
Singkatnya, setelah beberapa kali pertemuan dan presentasi(termasuk fit and proper test dalam rapat bidang), gue resmi ditunjuk jadi duta WMM.
Gue mikir sederhana aja, I’m not a superwoman, tapi gue percaya bahwa hal-hal besar itu bermula dari sesuatu yang kecil. Jadi saat gue ditawarin buat ambil bagian dari sebuah program yang bertujuan menaikkan angka 0,18 % jadi 2 % saja setidaknya, opsi apa lagi yang gue punya selain dengan antusias menyambutnya?
Selain jadi juru bicara dan mensosialisasikan program WMM, gue juga dituntut untuk menjadi contoh entrepreneur, which is sebenarnya gue dan management team di belakang gue juga udah lama banget sudah punya beberapa rencana bisnis yang akan dikerjakan. Makanya, konsekuensi dari status gue sebagai duta WMM ini otomatis bikin deadline dari rencana-rencana bisnis kami jadi maju semua. (Huiiihihihiii…., again the not-so-organised person,…. Huuuuhuhuuuuu)
Kemudian kita workshop ke beberapa kota…Yogyakarta, Bandung, Banjarmasin, Surabaya, Palembang dan minggu lalu ke Medan n abis ini masih ada beberapa kota lagi yang harus didatangi
Guys, seru bangeeeeeet!
Di samping ketemu temen-temen mahasiswa, sekarang gue punya keluarga baru nih, ada tim PKBL (Program kemitraan dan bina lingkungan) dan micro business yang punya gawe : Pak Suko, mBak Nina, mBak Lysa and all Mandiri team, lalu dari Indonesia Lima (Rayes, mas Nito, Miky-Miko cs), kemudian new member of trio cemonk : Artika –Revi, dan pemenang WMM tahun lalu : Hendi, Saptuari, Elang. Dan ujung-ujungnya, habis kerja, langsung urusan perut yang dipikirin. Berwisata kuliner di mana lagi ya?
Satu lagi, gue salut dan angkat jempol buat kesungguhan Bank Mandiri. Di tiap workshop, direktur-direkturnya terjun langsung, and you know what? gak cuma seremonial, tapi langsung jadi moderator buat hamper semua sesi diskusinya dan ngasih rangkuman di akhir acara. Bahkan waktu di Surabaya, Pak Agus Martowardojo sendiri yang jadi moderator di sesi bareng Ir. Ciputra. Wooow! Banyak ilmu dan contoh yang bisa dipelajari banget….!!!!!
Waduh,ternyata panjang juga intro tentang WMM ya. Gue rencananya mau nulis apa yang ada di kepala, terus ngedit dan ngilang-ilangin bagian yang gak perlu, tapi kok ternyata gue suka semua J
*(correct me if I’m wrong, does anybody have an accurate number? please share!)
Dari kemaren, kita udah muter2 ke 6 kota. Jogjakarta, Bandung, Banjarmasin, Palembang, dan kemaren Surabaya. Team kita makin solid. Selalu ada acara sharing dengan para pemenang wirausaha muda mandiri taun lalu. Kalo nggak si Saptu, si Hendy, atau Elang. Mereka adalah entrepreneur entrepreneur muda yang patut diacungi jempol. Ketemu sama orang2 seperti itu menarik banget, bikin gue banyak belajar juga. Nggak cuma itu, pembicara-pembicara yang muncul di acara-acara wmm seperti itu menarik semua. Kadang-kadang, salah satunya Pak Ciputra, Renal Kasali, dan Pak Dorojatun Kuntjorojakti, mereka ada yang menceritakan pengalaman perjuangan mereka meniti dari usaha kecil, ada juga yang memberikan materi yang sudah disiapkan sebelumnya. Hebat sekali. Gue bener2 beruntung punya kesempatan untuk acara ini. Banyak banget ilmunya asli! Apalagi gue ada temen cemonk si Tika(Artika Sari Devi) yang selalu kompak ngerumpi, sambil ngebahas teori-teorinya pembicara-pembicara yang dateng. Ini mungkin adalah keluarga baru gue, termasuk anak-anak Indonesia 5 dan juga team Bank Mandiri, yang selalu kompak bekerja sama dalam mewujudkan acara buat anak-anak mahasiswa ini.
Setiap kali abis acara, kita selalu makannya sama-sama. Seperti waktu di Banjarmasin, kita makan sama-sama di restoran khas makanan Banjar, makan ikan seluang sama udang sungai. Yang ternyata menu yang sama dapat juga ditemukan di Palembang, ikan seluang dan udang sungai. Ternyata karena dua-duanya punya sungai besar. Dan di Banjarmasin, yang paling berkesan adalah saat kita makan duren rame-rame di kantor cabang Banjarmasin, bersama Pak Suko, team mikro Bisnis Mandiri: Mbak Nina dan Mbak Lisa, beserta temen bank Mandiri cabang Banjarmasin. Haduuuh,… Tika-tika….. dia masih aja kuat makan duren terus sampe buah keenam, sementara diriku udah nggak kuat bantuin makan duren di buah ke empat. Durennya manis banget! Enak! Di Banjarmasin juga enaknya ketemu sama tante Utie, sepupunya mama yang tinggal disitu karena ikut tugas suaminya.
Guys, kenalin temen gue Saptuari Sugiharto. Dia ini bosnya Kedai Digital, dia adalah founder dan owner dari kedai digital empire, yang kini sudah ada di beberapa kota. Kalo mau liat check sendiri www.kedaidigital.com. Terakhir kali di Palembang dalam salah satu tour Wirausaha Muda Mandiri, Saptu, Tika, anak2 Indonesia5, dan staff mikro bisnis BankMandiri ngasih surprise buat aku. Tiba2 mahasiswa unsri diajak tepuk tangan rame2 dan nyanyi Happy Birthday buat aku dipanggung. Kue ulang taun muncul out of no where, terus Saptu tiba2 menyerahkan hadiah yang udah dia siapin sebelumnya. Jam produksi Kedai Digital!!! Hebat sekali. Kedai digital memang kedai unik yang merayakan sesuatu yang instingtif ada pada setiap manusia: narsisme! Di kedai digital, semua orang bisa bikin merchandise dengan potret dirinya sendiri.