Kemaren, gue ketemu sama si Iwang dari AhmettSalina. Inilah tim yang terdiri dari mereka yang genius, antara lain telah sukses membuat kampanye ChangeYourself dari beberapa tahun terakhir.
Gue cukup beruntung, bisa betatap muka langsung dengan frame “Being Happy on Other’s Grief” yang sangat legendaris itu.
Saat ditanya tentang ide di balik frame tersebut, si Iwang bilang kalo kita kadang suka secara nggak sadar bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Dulu frame virtual itu paling sering ditempelkan ke sosok mantan Presiden Suharto, karena banyak klaim bahwa dia dan kroni-kroninya menikmati kekayaan dan hidup enak di atas penderitaan rayat miskin bangsa ini.
Tapi sekarang, setelah Pak Harto belakangan jatuh sakit, dan kemarin baru aja meninggal, kok sekarang banyak juga di antara kita yang seneng-seneng aja di atas penderitaan dia dan keluarganya. Kayaknya itu juga nggak bener deh. Berarti kita juga nggak lebih baik dari dia dong!?
Si Iwang memang genius dan berani. Ide-idenya (salah satunya soal menjual Lumpur Lapindo untuk kemudian didonasikan kembali itu) adalah untuk membangun interaksi humanis lagi di dunia urban yang sangat mendiskonektifkan satu manusia dengan manusia yang lainnya.
Untuk melihat kampanye-kampanye mereka lebih jauh: www.ahmettsalina.com