Notes : ini tulisanku yg semula dibuat sebagai salah satu dari rangkaian promo film Drupadi, Namun karena satu sebab, tidak jadi dipublikasikan dan aku putuskan untuk dmuat di blog saja. Terima kasih kepada mbak Leila S. Chudori yang membantu mengedit dan merapikan bahasa :)
Perempuan dan Film
oleh Dian Sastrowardoyo
Sebagai seorang perempuan saya menyadari betapa dekatnya saya dengan film. Bukan hanya sebagai pekerja film, tetapi juga sebagai penikmat film sebagai oksigen hidup saya. Bagi saya, banyak sekali fase dalam kehidupan seorang perempuan yang bisa dirayakan dengan menyaksikan sebuah film. Saat saya tengah ’down tempo’ (ini terminologi yang saya gunakan bersama teman-teman ketika kami memerlukan ’asupan semangat’) misalnya, saya pasti menghabiskan waktu luang saya untuk menyaksikan sederet feel good movie bersama teman-teman saya. Inilah serangkaian film yang memang dibuat untuk pasar penonton perempuan yang sedang merasa perlu diingatkan bahwa mereka pasti bisa melalui semuanya.
Serangkaian judul film yang pernah menjadi menu girls movie night kami antara lain adalah: The Sweetest Thing (Roger Kumble, 2002 ), Shop Girl (anand tucker 2005,) Sex And The City (Michael Patrick King, 2008) bahkan Charlie’s Angels : the movie, (McG 2000). Walaupun itu adalah film-film ringan, namun cukup efektif untuk membuat kami lebih optimistis saat membaca credit tittle di penghujung film. Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials, untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki (terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah riuh rendahnya hidup hanya dengan bermodalkan stok koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak menciptakan sebuah renungan tentang hidup.
Namun, selain pengisi jiwa, di dunia industri, film juga memiliki pengaruh yang luar biasa. Jika kita meneropong gaya hidup perempuan melintasi masa misalnya, film dapat menjadi sumber yang sangat mudah untuk dijadikan referensi. Dari perspektif perkembangan fashion dan gaya hidup, kita sudah bisa menjejerkan beberapa judul film yang berhasil menangkap detail fashion dan gaya hidup yang sangat menarik seperti The Devil Wears Prada (David frankel,2006); Sex & The City (Michael Patrick King, 2008), Marie Antoniette (sofia coppola, 2006), Darlings, pret a porter : ready to wear (robert altman, 1994) dan Annie Hall (Woody Allen, 1977). Film telah menjadi artefak budaya yang selalu menjadi ’teks’, dimana kita di dalamnya, kita ’membaca’ atau memahami lebih jauh mengenai kebudayaan manusia. Dalam hal ini, ’teks’ dalam film kita lihat sebagai isi (content) yang kompleks dari kejadian-kejadian (gambar, kata, bunyi) yang berhubungan satu sama lain didalam sebuah konteks yang bisa menjadi cerita atau narasi. Namun marilah kita coba melihat lebih dalam lagi tentang bagaimana film selama ini mempersepsikan perempuan.
Perempuan sebagai objek di dalam Film
Apa yang kita bayangkan dari film-film seperti James Bond, Scream, I Know What You Did Last Summer, American Pie, Bourne Ultimatum? Film-film ini menggambarkan perempuan dengan keindahan fisik yang luar biasa (yang biasanya jauh sekali dari penampilan perempuan sehari-hari), dengan wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna, dan dengan baju dan penampilan yang sengaja memfokuskan pada keindahan tubuh tertentu. Buah dada yang besar, kaki luar biasa jenjang dan rambut bak mayang terurai adalah penampilan dari figur perempuan yang menjadi resep membuat film yang laku di pasaran. Di dalam film, perempuan sering sekali digambarkan sebagai pemanis, penghias, dan tidak memiliki urgensi kepentingan peran apapun terhadap jalan cerita keseluruhan. Mereka muncul sebagai sosok yang perlu diselamatkan atau ditolong. Ini adalah sudut pandang pembuatan film yang sangat patriarkis, atau lebih parah lagi bersifat phallocentric. Film-film ini menggunakan sudut pandang laki-laki. Maksudnya adalah bahwa yang membuat film ini mengandaikan bahwa yang menonton film itu adalah laki-laki semua, atau cerita yang digarap menggunakan cara pikir laki-laki. Yang menarik dalam hal ini adalah: bagaimana penonton film menyaksikan film yang berlogika maskulin, ini berarti membuat perempuan membaca teks yang tidak bisa menggambarkan perempuan secara utuh. Perempuan dilihat hanya sebatas definisi fisiknya saja: memiliki tubuh dengan buah dada, pinggang yang kecil, kaki yang ramping dan rambut panjang. Sementara perempuan sebenarnya jauh lebih plural daripada definisi yang sederhana itu. Ada banyak sekali dimensi kehidupan, karakter dan cara pikir perempuan yang tentunya tidak akan dipahami oleh sang pembuat film yang maskulin itu, karena tentunya mereka tidak pernah mempunyai pengalaman hidup sebagai perempuan.
Yang kurang menguntungkan bagi kita adalah para penonton perempuan saat menonton film sejenis ini menjadi terbiasa membaca diri nya sendiri dengan sudut pandang laki-laki; dari sebuah sudut pandang yang meredusir atau menyederhanakan sosok perempuan. Perempuan hanya didefinisikan dari fisik belaka. Pada gilirannya, kitapun mengukur ke-‘perempuan’an kita sebatas penampilan fisik saja, sehingga kita sebagai kaum perempuan di zaman modern ini jadi terlalu repot dan terlalu sibuk mendefinisikan diri kita sebagai perempuan melalui segi penampilan fisik. Karena kita terlanjur memiliki peikiran bahwa definisi fisik adalahlah satu-satunya definisi yang menjadikan kita perempuan, maka kita terlalu sadar diri (self-conscious) terhadap bentuk tubuh kita(apakah kulit saya cukup normal untuk kulit ‘perempuan’? rambut saya cukup ‘perempuan’? apakah bentuk kaki atau lengan saya cukup ‘perempuan’? apakah buah dada saya cukup ukurannya sehingga cukup ‘sah’ untuk menjadikan saya ‘perempuan’?). Tanpa kita sadari kita terlalu banyak menghabiskan energi, waktu, dan uang demi merawat bahkan memodifikasi bentuk tubuh yang kita miliki. Kita lupa dengan multi dimensi lain yang dimiliki oleh perempuan.
Namun kabar baik bagi para penonton perempuan adalah, saat ini telah lahir sineas perempuan yang memiliki wewenang untuk menentukan isi film yang menggambarkan komplesitas perempuan.
Perempuan yang menciptakan teks tentang perempuan.
Seorang sutradara perempuan, penulis skenario perempuan, produser perempuan memiliki kuasa atau wewenang untuk menciptakan representasi perempuan yang melawan sistem patriarkis. Melalui film-film seperti ini, para penonton perempuan dapat ‘membaca’ teks yang karya sineas perempuan juga. Kita jadi dapat lebih mengerti diri kita sebagai perempuan dengan melihat bagaimana perempuan lain mencoba menulis tentang dirinya atau tentang apa yang dia pahami tentang perempuan, tentunya lengkap dengan berbagai aspek yang multi dimensional akan menjadi seorang perempuan.
Film-film yang mampu berbicara yang lahir dari sineas perempuan adalah The Piano (Jane Campion, 1993), Monster (Patty Jenkins, 2003), Virgin Suicides(Sofia Coppola, 1999), Lost in Translation (Sofia Coppola, 2003), Monalisa Smile (mike newell, 2003) ,Frida (Julie Taymor,2002)
Sementara beruntunglah kita, di Indonesia walaupun dunia film masih tergolong baru lahir, banyak juga tokoh sineas perempuan yang langsung ikut mewarnai menu perfilman nasional: Nan T. Achnas dengan film Pasir Berbisik (2001), Nia Dinata dan kawan-kawan dengan rangkaian film pendek “Perempuan Punya Cerita (2007).
Dengan dosis sehat menonton film perempuan seperti ini, kita jadi tidak terjebak dalam definisi dangkal yang itu-itu saja dalam memaknai diri kita masing-masing sebagai kaum perempuan. Kita juga dapat lebih menghormati ke’perempuan’an kita yang lebih utuh yang lebih lengkap dengan multi dimensi kehidupan kita dengan berbagai peran dan tantangannya. Kita dapat lebih berani menciptakan definisi diri kita sendiri yang lebih independen, tidak lagi bergantung pada peradaban patriarki untuk memberikan definisi mereka yang terbatas untuk menandai kita perempuan, tidak lagi tunduk dengan pendapat yang diberikan dari luar tetapi lebih mandiri untuk menciptakan pendapat dari dalam. Mari kita membebaskan diri dari sistem penandaan maskulin, mari kita ciptakan sendiri logika dan cara berpikir feminin yang bebas dari judgement, dogma, cara pandang yang misoginis.
____
beberapa film unik pilihan Dian Sastrowardoyo untuk dinikmati bersama cocktail & nibbles kegemaran di rumah ;
Feb 14, 2009 at 8:54 pm KiMi
Aku suka Eternal Sunshine dan Juno. Apalagi eternal sunshine. Maknanya dalem banget, jeee… Hehehe…
Ellen Page mainnya memang bagus di Juno. Trus, aku baru sadar ternyata dia yang main di Candy Man (atau apa gitu judulnya)..
Feb 15, 2009 at 12:02 am witagila
tar aja dah bacanya..panjang sih!! ngyahahahaaaa.a……
reperensi pelem boljug tuh!..ahhauhauahauuu…
Feb 15, 2009 at 12:15 am hadi
aku ingat pada sebuah film (tapi judul lengkapnya aku lupa)) yang judul dibelangkangnya proposal-proposal begitu deh. Isi themanya sederhana saja yakni tentang seorang istri yang “setia” ditawari uang satu juta dollar oleh seorang milyuner untuk berselingkuh dengannya dalam waktu semalam. Dengan thema film yang sederhana ini, ternyata reaksi pasar sungguh fantatis. Jadi dengan thema film yang baik dan penyajiannya bagus, aku rasa pasar tidak akan diskriminatif
Feb 15, 2009 at 12:24 am hadi
say, lagi ngapain sih ? duhhh …. aku kesepian nih… inget lo terus
Feb 15, 2009 at 4:33 am Me.......
aku ga pernah ngeliat seorang perempuan dari bentuk fisiknya,karena kalo rasanya,dalemannya,sama karmanya ga gathuk itu,secantik apapun tetep aja pas jalan sama dia rasanya kaya di neraka………
umpama mengerjakan sesuatu yg kita ga suka aja,sekalipun bayarannya segede apaan juga,gampangnya setangah mati,but kalo dasarnya udah ga suka,ga pas rasanya,tetep aja kesiksa.
Skrg sih,Mending mainin bach deh,lagu violin partita II,gigue dibayar cuman goceng daripada maen “little wing” tapi dibayar gotiauw (lima jeti)….wong udah ga doyan sama basi dirasa…sama aja nyiksa itu sih.
Feb 15, 2009 at 5:08 am Me.......
terlepas dari laki apa perempuan,
yg bener itu memang pengertian yg muncul dari kedalaman diri sendiri, dimana ketika akal pikiran perasaan hati yg isinya berupa definisi dan ideal2 jajahan dari buku2 dan luar diri kita itu sudah bisa pilah dengan sang aku,sehingga aku itu bisa bangkit menjadi tuan rumah di dirinya sendiri dimana akal,hati dan nafsu2 itu sekedar menjadi pembantunya saja,peserta hidupnya,kadang cuma sekedra menjadi penonton dan saksi belaka ketika sang Aku sedang berkarya dan berbuat.Jiwa mahardhika.
Dari keinsyafan diri seperti itulah akan muncul pengertian yg murni, orisinil,khas bagi kita sendiri, selaras dengan pribadi kita sendiri, terlepas kita ini seorang laki2 atau wedhok,
l cuma hasil kerjanya otak yg penuh muslihat emang,yg sukanya ngebeda-bedain yg sesungguhnya SATU.
Feb 15, 2009 at 3:23 pm Joomlacube
huah! Jadi inget ama tulisan Simone De Beauvior ke..ke…ke…
Perempuan harus punya jalan sendiri! Dia Manusia. Mereka Manusia. Aku Manusia dan Kamu Manusia. Lalu Bedanya dimana?
Apakah Hanya beda kelamin harus saling mendominasi…… huaa….. Sip-sip jadi pengen baca simone de beauvior lagi…..
Feb 15, 2009 at 4:26 pm yoursecretadmire
joomlacube… Bedanya kalo aku pipis bediri , hahaha
Feb 15, 2009 at 4:30 pm LiL Lia
Kalau diriku ingat sama Television & Woman’s Culture-nya Marry Elle Brown. Buku kuliah soalnya :P Kok Breakfast @TIffany’s ngga dimasukin? Atau Devil Wears Prada. Atau Pride and Prejudice?
Feb 16, 2009 at 9:52 am moe
Cobain deh film jadul ”Time and Tide ”-nya Tsui Hark.
Dijamin, kita akan dibawa berpikir kesengsaraan dan kebahagiaan itu hanya terpisah kabut tipis. Hu….
Feb 17, 2009 at 4:32 pm hamzah sahal
mas, coba contact publisis miles dengan mbak andanari. alamat n no tel miles aku lupa, silakan di google ya
Dear Dian Sastro…
Salam,
Dian, teman-teman berencana bedah film drupadi, kira-kira minggu ketiga bulan maret. Tempatnya di UNJ Rawamangun. Tema diskusinya “Kisah Tubuh Perempuan dalam Dunia Politik. Selain Anda, pembicara yang akan diundang adalah Riri Riza, Nursyahbani Kancasungkana (Aktifis perempuan dan politisi), dan Ahmad Baso (Anggota Komnas HAM).
Acara bedah film ini termasuk dari rangkaian “Pekan Layar Tancap” yang digelar dalam rangka memperingati Hari Film Nasional. Penyelenggaranya Masyarakat Tradisional Indonesia.
Dian, dimanakah surat harus dilayangkan?
Terima kasih atas perhatiannya..
salam,
hamzah sahal
Feb 17, 2009 at 9:37 pm Albarr
I care
happy Valentine Day
Feb 17, 2009 at 10:05 pm Albarr
Setuju perhiasan terbaik dunia adalah perempuan
kurang lebih gitu
Feb 18, 2009 at 2:31 pm yoursecretadmire
Dian……………
Feb 18, 2009 at 10:40 pm Miftahur
Aku kurang setuju kalo Perempuan harta terbaik di dunia
Menurutku harta terbaik yaitu amal kebajikan
Dari:
http://www.segalanya.webs.com
Feb 19, 2009 at 3:53 am jokoparadise
karena perempaun tahu, tanpa mereka lelaki segagah apapun mereka bukan lah seorang yang gagah.haha
Feb 19, 2009 at 3:03 pm kebon
ntah gimana caranya bisa nyasar sampe kemari. tapi sungguh suatu pemikiran yang bagus sekali yang dituangkan dalam tulisan diatas.
cuma mungkin ada sedikti protes dari saya.
akan sangat mudah bagi kamu yang pastinya bagi kebanyakan orang termasuk saya :), dimana kecantikan dan semua yang bagus2 dianugerahkan padamu. sangat mudah untuk menyatakan bahwa aku tidak terjebak seperti dalam yang digambarkan di film2 bahwa wanita ataw perempuan harus seperti yang di film2 itu dimana mereka cantik, seksi, rambut panjang bak mayang terurai.
tokh kamu sudah memilikinya, walaupun mungkin juga mereasa tidak seperti itu. tapi bagi pandangan umum dian sastro tentu memiliki itu semua.
Bagaimana yang tidak memiliki itu tentu bukan hal yang mudah, tapi ajakan untuk hal itu bener2 suatu yang positif. hnya mgk implementasinya tidak akan mudah.
Satu hal lagi, entah apakah saya memang benar2 membaca dengan baik ataw tidak. tapi saya mendapati kesan bahwa sineas2 wanita/perempuan lebih bisa menggambarkan keadaan perempuan yang sebenernya karena mereka mengalami pengalaman sebagai perempuan dan lebih memahami perempuan.
Entah kenapa rasa2nya sangant tidak setuju dengan pernyataan ini, walau mungkin itu tidak dinyatakan secara implisit. menurut saya malah justru kebalikannya. sineas2 perempuan tentunya lebih bisa menggambarkan tentang laki-laki dan sineas laki-laki sebaliknya tentu lebih bisa menggambarkan tentang perempuan.
karena kita tokh pada dasaranya tidak bisa melihat diri kita sendiri kan?
akan banyak sekali bias dan unsur subyektifitas. tentunya orang lain dalam hal ini laki-laki dan perempuan, secara terbalik tentu lebih bisa melihat sisi-sisi lain dari lawan jenisnya secara lebih obyektif dan mungkin juga sisi2 yang tidak terjangkau ataaw mungkin tidak disadari oleh pihak yang diobserbasi.
saya saat ini tidak bisa menyebutkan film2 yang dibuat oleh sineas laki2 yang menggambarkan perempuan dengan baik. tapi film itu ada cuma ga tau judulnya pa. lupa hahaha. cuma kalo liat contoh yang diberikan diatas, rasa2nya film lost in translation, cukup baik menggambarkan ttg sosok seorang laki-laki paru baya yang berada diujung popularitasnya dan dengan segala kegundahannya. dan film itu dibuat oleh sineas perempuan.
kq jadi panjang banget yach.
padahal gw cuma mo ngomong kalo dian sastro ini, look very stunning in real life. sangat mempesona, jauh sekali dari kesan glamour, sangat sederhana tapi itulah yang membuat kamu istimewa.
dua detik beradu pandang uadah bikin jantung mau copot. dan mungkin butuh waktu 2 menit buat gw nyadar kalo yang lagi lirik2an itu dian sastro.
alamak langsung terbang semangat gw. jadi ga berani nyamperin.
LOL
gut luck to u dian
Feb 20, 2009 at 3:42 pm Dhaneta
never think about it before…
bagus juga.. :)
film bukan skumpulan potongan gambar dan cerita… tapi juga mengandung nilai-nilai… pun bahkan bisa membentuk budaya.
good.
Feb 21, 2009 at 10:14 am fadhli
ga cuma di film, bahkan di cerita-cerita dongeng yang suka kita baca ketika kecil dulu pun mencitrakan perempuan sebagai sosok yang tergantung pada laki2, contohnya sleeping beauty yang menceritakan seorang putri yang tertidur karena tertusuk jarum yang bisa bangun kalo dicium oleh seorang pangeran. mungkin karena sudah terpengaruh oleh cerita2 seperti itu, para pembuat film suka mencitrakan perempuan sebagai orang yang tergantung ama laki2
Feb 21, 2009 at 12:06 pm T163R LAND
YO I BOND GIRL. BENAR. ITU SUDAH. MEMANG UNTUK MENGISI WAKTU LUANG DI RUMAH BAGI YANG MASIH LAJANG YAITU NONTON FILM. APALAGI ADA PARTAI TAMBAHANNYA BERUPA NYAM-NYAM SNACK.
NONTON FILM BERGUNA JUGA UNTUK MENAMBAH WAWASAN, PENGETAHUAN DAN PEMBELAJARAN UNTUK DIAPLIKASIKAN DI KEHIDUPAN NYATA.
OK DWEEH BOND GIRL. SUKSES SELALU. BTW, KAPAN NICH MELEPAS MASA LAJANG? C U NEXT TIME. GOOD LUCK AND GOD BLESS.
Feb 21, 2009 at 3:12 pm Inaya Rakhmani
Dear Dian,
Apa kabar?
I like your writing. I strongly suggest reading about Laura Mulvey’s gaze (unless you already have).
Out of curiosity though… Argumen lo adalah, in recent trends, perempuan kerapkali dijadikan objek dalam film (baca: industri budaya) ketimbang subjek. How do you, (mau ngga mau) salah satu ikon budaya popular di Indonesia dan perempuan, memposisikan diri? Apalagi mengingat lo memilih untuk jadi endorses produk kecantikan yang, dalam artikel ini, lo kritik gagasan dasarnya.
No judgement, pure curiosity. I believe, though, at the end of the day we’re all looking for a balance and consistency between what we know and what we do. Pretty sure no one can master that art. Cheers, keep writing.
Bestest,
Inaya
dear inaya, aku blm tahu gimana langsung reply ke salah satu comment, jadi terpaksa aku tulis di sini ya
thx n aku sangat menghargai banget comment-mu. actually itu juga yg aku bahas dalam skripsiku, di mana ternyata sebagai sebuah object, pada saat bersamaan aku juga bisa menjadi subject. korban dan pelaku. argumen-nya panjang tapi insya allah skripsiku segera dibukukan n bisa tahu stand point aku secara lengkap di situ.
sekali lagi, i really appreciate ur comment
Feb 21, 2009 at 6:48 pm artnya
Hemmm…. boleh juga reference-nya
Feb 21, 2009 at 8:01 pm Iblis Insyaf
Hai Dian,
:-)
To the point aja yaa.. :)
Saya setuju dengan pendapat kamu bahwa perempuan sering bahkan hampir disetiap film, perempuanlah yang dijadikan ‘objek’ untuk menarik para penggemar film.
Sorry to say, tapi ini kenyataan dan saya sendiri pun mengakuinya, bahwasanya kalo tidak ada sosok perempuan cantik dalam suatu film, kok rasanya kurang pas untuk di tonton yaa.. Noch mahls, so sorry to say it.
And Sorry again, kenyataannya, (Tidak Bermaksud Fulgar dan Porno Loh..) keindahan perempuan terutama dari kecantikan dan elok lekuk tubuhnya, selalu dijadikan alasan utama dalam sebuah film layak atau tidak untuk ditonton. Hal ini biasanya yang pertama kali terlintas dalam benak setiap kaum pria yang gemar menonton. Noch mahls, so sorry to say it.
Namun tidak semua pria berpikiran sama seperti yang saya utarakan tadi loh. Banyak kok kaum pria yang menonton lebih mengutamakan jenis film seperti film adegan laga, komedi atau drama tanpa mempedulikan hal diatas. Bahkan diantara mereka ada juga yang menonton film hanya untuk menyenangkan pasangan wanitanya. Hehehe… (Ups… Including me.. Sometimes… Sorry.. Hihihi… )
:-)
Sekarang yang jadi pertanyaan saya adalah :
Kira-kira,hal apa yaa yang menjadi penyebab utama bagi perempuan yang rela mengekploitasi keindahan tubuhnya sebagai objek dalam sebuah film untuk dinikmati khalayak banyak terutama bagi kaum pria?
Selain itu, jika mereka tahu (khususnya kaum perempuan) akan selalu dijadikan ‘object’ dalam sebuah Film, kira-kira, yang menjadi penyebab mereka tetap bersikeras untuk tetap terjun dalam dunia perfilman itu apa yaa?
Kira-kira menurut pendapat dari Dian Sastro sendiri apa yaa? Hehehe…
Salam,
Iblis Insyaf
Feb 21, 2009 at 9:03 pm Jusnick
sorry to say tapi gue kagak setuju dengan pendapat kalian semua,…. menurut saya setiap penonton punya perhatiannya masing-masing terhadap isi dari film yang dia lia. ada yang dijadikannya sebagai scene yang menarik ada yang dianggapnya tidak bagus… yah setiap orang boleh berpendapat, tapi jangan mengatasnamakan aku dalam pendapat2 kalian ya…. saya adalah penonton independen, kalo memang perempuan menarik ya saya bilang menarik, kalo musik dari film itu yang menarik ya aku bilang menarik itu musiknya semisal biografi dari Ray Charles oh tuhan itu film menarik sangat…. jadi saya ingin bilang kasih pendapat jangan seperti pengumuman ya…. contoh ekstrim antara peran laki2 dan perempuan dalam film bokep, keduanya diperlukan dan keduanya sama-sama telanjang bulat. kalo kamu nonton kamu akan menempatkan pemeran perempuan sebagai objek perhatian tapi kalo dia yang nonton ya dia pakai laki2 sebagai objek pemuas hasrat mata…. hehehee contoh untuk orang-orang dewasa harap maklum… dan ditanggapi seperlunya.
Feb 21, 2009 at 9:24 pm Cinandhi Nurmega
Dear Mbak Diandra Paramitha Sastrowardoyo,
Wow, referensi filmnya bagus-bagus banget Mbak! Aku suka Juno, hhehe. Alami banget, ngena. =). Tapi lebih dari semua itu postingan-postingan Mbak Dian tentang perempuan jauh lebih bagus! Makasih banget Mbak karena udah nyadarin ‘kita’ bahwa perempuaan bukanlah ’sosok’ yang hanya bisa dilihat dari sudut pandang ‘fisik’ saja. =).
Regards,
Cinandhi
Feb 21, 2009 at 10:28 pm Albarr
ada foto barunya gak di Flicker?
Feb 22, 2009 at 3:29 am Me.....
biasanya yah kalo gua liat dari temen2 gua,yg nganut feminism extreme,kalo lagi pas jatuh cinta,kena sentuh sang hyang asmoro, wah jadinya malah keliatan bego n tolol banget wakakakaka……..
gitu juga laki2 yg lagaknya ga butuh cewe,pas kena sentuh kamaratih, wahhh…..noraknya setengah mampus,sampe sebel gua ngeliatnya he he he….
ngomong2 nih,elo ga lesbi kan?…wakakaka….
lagian keki amat kayanya sama laki2……….ga mau kawin emangnya?. Mau jadi pertapa ?.
yuk atuh,temenin gua tapa di sanggar pamujan simping sana sampai kita berdua mukswa ilang sama badan2nya wakakaka……………
btw, sebenernya sih ga boleh keki n mau menang2an sendiri sama lanang kalo masih hidup di dunia ramai sini,dunia yg serba perincian, dimana ada laki ada wanita,ada kanan ada kiri,ada islam ada kristen, ada buddha ada hindu,ada arab ada yahudi, ada cokin ada jawa,ada mayoritas ada minoritas dsbnya ,ga boleh benci sama salah satunya, kan saling ngelengkapin
dan kesempurnaan itu ada di tengah,ga ini ga itu,tapi yah meliputi yg ini dan itu.
lanang sama wedhok kan hakikatnya satu toh jeng,….dipilah-pilah kan supaya jelas fungsinya masing2 dulu supaya nanti gampang jumbuhnya pas udah bersatu……….kaya kawulo sama gusti aja ………kemanusiaan dan ketuhanan………gula dengan manisnya.
kan saling ngelengkapin…bukannya disuruh buat menang2ngan……..
Feb 23, 2009 at 6:41 am Fickry
ya…saya sangat suka Juno….
sosok perempuan muda yang begitu mandiri….
Feb 24, 2009 at 12:55 am mbahkoeng
wah jadi inget waktu kecil nonton film Oshin, oshin sosok yang tegar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup…
Feb 24, 2009 at 2:07 pm Deny
Saya mo kasih referensi beberapa film lagi yang menurut saya lumayan bagus ditonton sambil makan cemilan :
- The Big Fish
- Radio
- Beyond Borders
- Turtles can fly
- Ray
- Amazing Grace
Garis besar ceritanya memang bukan tentang perempuan, tapi inti ceritanya dalem banget…Semoga ada waktu senggang untuk dimasukkan referensi buat ditonton (^_^)
Feb 25, 2009 at 11:22 am hadi
say, pagi ini aku ada dirumah. mau kekantor lagi ujan… jadi males deh..lagian sekarang ada teman2ku yg lagi ngeliatin foto-foto lo..katanya lo cantik banget. Semua tmanku udah ga sabar pengen liat lo yang aslinya … gitu katanya, say….
Feb 26, 2009 at 8:15 pm Kotaklagu
Mau Download Lagu MP3 Gratis???
Ada Lagu Barat, Indonesia, Rohani, Wedding, Love, Mandarin loch…
Klik Ajah…
http://www.kotaklagu.com
Ditunggu yah…
Feb 27, 2009 at 5:01 am Pulsa
Blog walking nie..
:)
Feb 27, 2009 at 10:30 am AndriaGutama
Mbak Dian…..
Saya jga nonton film ‘Monalisa Smile’. Dan saya setuju bgt, film ini memang menggambarkan wanita sebagai wanita, bukan hanya sebagai pemanis dalam film.
Emank susah yah nyari film yang bener2 bagus jalan ceritanya, yang masing-masing karakternya memiliki peran yang kuat….
Kpan main film lgi????
Feb 28, 2009 at 2:28 pm treespotter
Don’t usually like films about women too much, but have a look at The Guitar, see if you like it.
First thing that came to mind when i read this. The Guitar, by Amy Redford.
Mar 1, 2009 at 4:35 am Me..
jika sampai alam dan ibu pertiwi ini berbicara dan menggugat dengan menggunakan bahasa mereka sendiri dalam rupa2 bencana, berarti ada yg salah dengan kita,manusia2 yang mendiami bumi ini dan Jikalau sampai wanita berbicara serta menggugat kelaki-lakian dengan menggunakan bahasa dan alam batin mereka sendiri berarti ada yang salah juga dengan kaum laki2nya.
Mar 1, 2009 at 4:53 am The One
Hidup itu ga usah nuju sesuatu,supaya ga muter2 disitu mulu dan pengalaman yg diperoleh juga ga basi,pengalaman yang itu2 mulu
Hidup itu sama dengan semedi yang sebenernya bukankonsentrasi, tetapi pasrah membiarkan diri ini terbuka sehingga bisa senantiasa sadar dan waspada kepada tanda2 yg memberikan arah dan bimbingan bagi gerak langkah kita ke depan.
Jangan menuju sesuatu dalam hidup,sekalipun sesuatu itu dianggap baik atau apa.Tetapi jika sampai mempunyai tujuan itu jangan dipikirkan tetapi biarlah semua tujuan itu tinggal sebagai akte kesadaran saja.Jika ga menuju sesuatu,ga berkonsentrasi tetapi hanya membuka diri sehingga hati ini menjadi luas dan jiwa ini bangkit meliputi maka pengalaman2 hidup sehari-hari itu bisa aneh2 dan penuh warna, serbabaru tetapi sekalipun ga ketebak tetapi juga serba jelas arahnya yaitu kembali kepada Sumbernya Hidup itu sendiri yaitu Kasih.
Dan pengalaman hidup yang ga ada di angan2 kita sendiri serta ga ada di akal pikiran kita sendiri,itu yg namanya Kehidupan,senantiasa tumbuh,berkembang,berubah,bergerak dan berkarya,ga statis,muter2 mulu disitu.
Akal pikiran yg selalu berbau masa lalu,karena bagi mereka sudah tidak sedikit berpikir tetapi banyak bertindak,semuanya itu adalah disini sekarang ini.
So jangan banyak mikir,tetapi berbuat,jangan banyak omong tapi berbuat.Jangan juga banyak baca buku tetapi baca itu dirinya sendiri, alam sekitar serta kehidupan kita sehari-hari,ada pengertian yg ga akan diperoleh di buku2.
N jangan kebanyakan berdoa dan meminta tetapi usaha dan dijalani, itu Kehidupan.
Mar 4, 2009 at 8:59 pm torik
la vie en rose bagus banget..
Mar 5, 2009 at 1:02 am cobra
ha ha hah haaa gw lupa berapa banyak film yang gw tonton…tp yang gw inget cuma aadc aj…selain critanya ringan, bagus gw inget tman2 gw waktu itu sampe dobrak pintu masuk porak-poranda deh tu bioskop..
gw setuju film hari ini lebih banyak menjadikan perempuan sebagi objek..bahkan dalam kehidupan sosial sejatinya jg sebagai objek…semoga kelak perempuan di negeri ini bisa lebih baik lah posisi nya..
Mar 5, 2009 at 12:20 pm antokcupu
hmmm 1 kata wez.. setuju,, aja.