February 7th, 2008

Waaawwww seru sekaliii!!!!

Waaawwwww tough but fun day!! Walaupun akhirnya tidur jam 5, dan tadinya mau sok sok an nggak tidur sekalian, karena mau bangun jam 6 untuk (rencananya) matching in baju buat ke MK, akhirnya gue bablaaaassszzzzz baru bangun jam 9. Siiiiiiiiiittt!!!!!! (shiiit)

Padahal jam 9 sidangnya mulai! (Dwaaaang!!!!!) Akhirnya mandi secepatnya dan berhasil nyampe di MK jam 10.15. Canggih nggak tu? Dengan mata cemas nan sepet, aku masuk ke ruang sidang dengan tergopoh-gopoh –bawa tas laptop, tas pundak, botol aqua, sama berkas2 yang kemaren disiapin (adduuh ternyata repot ya pake rok sama sepatu pletak pletok segala).

Tapi untung passs banget aku sampe sebelum sesi penyataan para saksi di mulai. Aku masih sempet rapihin draft pernyataanku di laptop (untung batre masih ada). Sial, aku dapetnya tempat duduk yang persis di belakang podium saksi, jadi setiap kali ada yang memberikan pernyataan di podium itu muka culunku yang masih bengkak bengkak itu nongol di sudut kanan atas layar monitor yang gwede gwede ada di tiga penjuru ruang sidang. Siiyt siiiyt siiiiiit!!!!!!

Anjrittt nggak boleh nggak konsen nih, kalo ketiduran seluruh ruang sidang itu akan tau! mana mata sepet banget lagi. Terus, karena aku duduknya di belakang di belakang podium, mau nggak mau aku bakal selalu dipunggungi sama siapapun yang memberikan keterangan, sehingga untuk memperhatikan orang yang ngomong, aku harus melihat via layar yang gede gede itu! (yap dengan mukadimah ku stand by di pojok kanan atas itu)

Dan…, kok lama kelamaan aku malah merhatiin mukaku sendiri yah??? tadinya sesekali, tapi kok terus meneruuuussss??? Aduuuuh narsis banget sihhh???

Tapi memang bener lho, tau kan sensasi yang kita alami kalo lagi lewat toko elektronik yang mendisplay handycam, dengan TV yang memuat gambar yang diambil dari camera tersebut, kita pasti, aku ulang, PASTI pengen banget liat gambar manusia yang ada di tv itu. Ng…, bajuku gimana yah? rambutku? mukaku? aduuh kok belang bonteng gitu yah? atau… ‘Siiit! gendutan lagi nih!’ sial… mungkin itu juga yang dialami pada saat di dunia ini teknologi kaca baru saja ditemukan.

Ada buku yang pernah mencatat bahwa produksi alat dan bahan-bahan kecantikan itu baru mulai ramai berjamuran bersamaan dengan ditemukannya cermin. Karena sebelumnya kaca itu udah ada, tapi kualitas pandangnya masih buram. Dan hal itu bertambah lagi ketika teknologi camera ditemukan, dan budaya foto keluarga dirayakan di abad 16 di Eropa. Banyak sekali kasus mereka bolak balik pengen di foto ulang karena nggak puas dengan hasil gambar diri mereka.

Balik lagi ke sidang MK, akhirnya aku memberikan kesaksian yang agak tergopoh-gopoh karena belum biasa baca langsung dari monitor laptop. (kaya yang:’… ng…, bentar pak, .. tadi sampai dimana tadi… ng.., ini dia!’) terus ada beberapa bagian yang aku improvisasi dengan kata-kata sehari-hari agar terasa betul itu semua hal-hal yang aku ungkapkan dari dalam hatiku (tsaaaaelllaaahhhh…) ditambah dengan pause, penekanan dan timing yang aku hayati, mudah-mudahan semua point point pentingku tersampaikan dengan efektif ke tengah hadirin sidang tadi.

Ada moment di mana sempet pengen menangis, pas aku bilang,”Saya punya mimpi…, bahwa suatu saat bangsa Indonesia adalah bangsa yang berpikir…” tapi kayanya jadi agak cengeng, dan aku bener-bener nggak mau ini berubah menjadi suatu pertunjukkan seperti di arena sirkus, karena itu aku langsung sekuat tenaga mengalihkan konsentrasi pada materi dan narik nafas dalem-dalem.

Aku bingung juga ternyata di depan khalayak ramai, di ruang publik, di atas podium, kita ternyata bisa merasakan perasaan haru dan sedih. Padahal bukan tentang sesuatu yang personal lho. Ini tentang bangsa.., dan aku sendiri agak overwhelmed dengan fakta baru ini.

Segitunyakah aku mencintai bangsa ini? Segitunyakah aku menyayangi bangsa ini, sampai-sampai pas ngomongin tentangnya, aku kaya diserbu perasaan haru yang meluap-luap tak terkendali, tanpa aku tau datengnya dari mana. Atau aku cuma cengeng aja? Bisa jadi.

Aduuh aku ngetik gini aja udah menggenang lagi hangatnya di mata. Apa sebenernya kita segitu menyedihkannya yang bikin kita semua pengen nangis setiap kali kita menyadari ironisnya? Atau karena…, jauh di dalam kita benar-benar tau betul siapa bangsa ini sebenarnya, betapa baiknya orang indonesia, betapa kreatifnya, betapa tulusnya, betapa pinternya, betapa polosnya, betapa murni, betapa bangsa ini multi kultural, dan betapa sebenarnya bangsa saling menghargai golongan-golongan didalamnya.

Ah nggak tau ah apaan tadi tuh…, mungkin agak emosional aja kali ya.. berhubung karena belom tidur-tidur amat malemnya. Kayaknya jadi agak drama aja bawaaannya. Hueheheuehhehehe dasar drama queen…

untuk tau mengenai perjuangan MFI silhakan ke masyarakatfilmindonesia.wordpress.com

There are 205 comment for this entry.

  1. Feb 7, 2008 at 12:12 am Hannie

    antara “mencintai” (dalam konteks kalimatmu; ‘bangsa ini’) dengan “membenci” bisa beda tipis banget lho.

    tapi seperti kata orang, benci tanda cinta.
    terus berjuang ya, Dian :-)

  2. Feb 7, 2008 at 12:13 am fitra

    cool,,, ini tulisan paling enak dibaca dari bbrp tulisan dian.. Di sela-sela tulisan ttg pengalaman juga memaparkan pengetahuan

  3. Feb 7, 2008 at 12:22 am bod

    curhatnya malem bangets…. eh dini hari begini… besok libur ya…
    btw… selamat deh pagi tadi sukses yah….

  4. Feb 7, 2008 at 12:32 am capung

    merdeka!!!!!!
    Hehehehe, emang benar sih ada saat di mana kita merasa sisi terdalam di hati kita ingin berteriak atau berontak hingga tak terasa “tears in heaven”. kamu gak narsis kok cuma agak manizzzzz!!
    cayo

  5. Feb 7, 2008 at 12:34 am alim

    Segitunyakah aku mencintai bangsa ini? segitunyakah aku menyayangi bangsa ini, sampai-sampai pas ngomongin tentangnya, aku kaya diserbu perasaan haru yang meluap-luap tak terkendali, tanpa aku tau datengnya dari mana.
    buat dian yang aku sayangi ciee…, perjuanganmu untuk memajukan negri ini begitu tulus.
    hello semua, mari kita ikut mencintai negri kita sendiri dengan kemampuan kita masing-masing.
    hiduplah negriku.. jayalah bangsaku.. makmurlah rakyatnya.. (inflasi?).

  6. Feb 7, 2008 at 12:35 am chriz

    ingin berharap setinggi langit, apa daya hanya membentur atap. salahkah aku bila hanya duduk diam apatis, melihat bangsa ini entah kemana. namanya mimpi ya ada jeung.. tapi ya itu.. balik2 lagi berhadapan ama kenyataan.

    eniwe, salam kenal dulu yak.

  7. Feb 7, 2008 at 12:39 am Fadli Reza

    kasus tentang apa sih mba? ngga connect ni..

  8. Feb 7, 2008 at 12:41 am aRuL

    foto yang lagi sidang MK dunkz.. hehehe kan pengen liat dian dengan kondisi tanpa kamera buat film :D

  9. Feb 7, 2008 at 12:44 am santipanon

    Memang menyedihkan…

    Mungkin juga kah, krn bangsa kita terlalu banyak pake otak kanan, EQ, yg mendominasi otak kiri, IQ, gak ngimbang jadinya… dan jadinya ga mikir… :(:(

    Ironisnya aku juga orang Indonesia, jangan2 aku juga terlalu boros di otak kanan.. ha ha ha.. jadi ga mikir.. berarti ga sesuai harapanmu dong Di… heu heu heu… :D:D

    Memamng menyedihkan…

  10. Feb 7, 2008 at 12:49 am bank al

    Kita bisa menangis karena dua hal yg berbeda, sangat sedih atau sangat bahagia. Dian mungkin meneteskan air mata karena sebel lihat sebagian teman sebangsa yg nggak mikir, atau bisa juga menangis karena membayangkan alangkah indahnya jika mimpi indah itu terwujud.
    Aku menduga Dian nangis karena haru akan mimpi indah itu. It tells me that you love Indonesia so much. I can feel it from here.

  11. Feb 7, 2008 at 12:53 am Dian Sastrowardoyo

    “foto yang lagi sidang MK dunkz.. hehehe kan pengen liat dian dengan kondisi tanpa kamera buat film :D”

    waduh aku nggak foto2 tuh…. boro2 kepikiran

  12. Feb 7, 2008 at 12:59 am Dian Sastrowardoyo

    “kasus tentang apa sih mba? ngga connect ni..”

    Walaaahhhh….!! nih aku kasih linknya yah: masyarakatfilmindonesia.wordpress.org

  13. Feb 7, 2008 at 1:07 am capung

    aku baca profilmu, ternyata kamu hobi band juga ya??
    ngeband pa cuma seneng liat atau dengerrin lagu dari band tersebut??
    tanya lagi nih, bagaimana pendapatmu tentang Indowebster.com

  14. Feb 7, 2008 at 1:11 am Arocks

    You’re stronger than I am. When I have to deal with all the bullsh*t this country have, I said “f*ck you” and keep walking forward without being care about it. Looking at what you do, maybe I should fight back… Don’t you think ??

  15. Feb 7, 2008 at 1:18 am Donny Verdian

    Kebangsaan itu ada dalam darah dan tubuh. Kecintaan yang tak kan pernah tergantikan selama darah dan tubuh menyatu dengan roh. Mari smangkin mencintai Indonesia!

  16. Feb 7, 2008 at 1:42 am ipungmbuh SH

    tsaelahhhh..mendayu biru sepertinya budhe Dian di mimbar tadi.
    trus tanggepan pakde Jimly gimana budhe ?

    alinea terakhir, da*n!!..dalem banget budhe.. ho oh kali ya
    *mikir sambil elus2 jenggot*

  17. Feb 7, 2008 at 1:51 am alim

    Ada moment dimana sempet pengen menangis, pas aku bilang,”Saya punya mimpi…, bahwa suatu saat bangsa Indonesia adalah bangsa yang berpikir…”
    pasti dian suatu saat indonesia menjadi negara yang maju karena secara geografis letak indonesia sangat strategis, mari kita fikirkan lintas perdagangan akan melewati indonesia!!?
    sabar.. semangat.. berjuang.. saya sempat bermimpi kalau saja biaya pendidikan murah, biaya kesehatan murah, perlindungan kreatifitas intelektual sempurna..

  18. Feb 7, 2008 at 2:07 am asfiandi

    salam..
    smoga sukses ya mbak,mudah2n hasil sidangnya nanti sesuai harapan. klasifikasi bearti tanpa potongan ya mbak?trus kalo kita ambil satu contoh kasus film ga penting “buruan cium gue” itu masuk klasifikasi apaan ya?
    parental guide kali ya..;)
    turunan dr film dlm bentuk VCD/DVD juga tanpa potongan?
    bioskop memang ga seluruh indonesia,dan masih banyak orang indonesia yg ga mampu nonton,menikmati empuknya kursi dan sejuknya AC bioskop. tapi kalo VCD/DVD bajakan?keseluruh penjuru indonesia lho mbak,bahkan (kayaknya) sampe pulau terjauh ;)
    lagian di negara kita ini,fungsi pengawasan,termasuk orang tua terhadap anak,masih lemah. mungkin faktor ekonomi berperan. contoh lagi,DVD game PS2 bajakan,di kovernya itu ada klasifikasinya baik jepang atau amerika/kanada..tetapi semua game (termasuk klasifikasi ADULT) dibabat abis oleh anak2 SD dan SMP,seperti GAME GTA:San Andreas dan seri GTA yg lain.
    (inget kasus smackdown beberapa waktu lalu bukan?)
    masih bnyk yg harus kita benahi di negara kita ini.
    semoga sidangnya menang mbak,dan implementasinya berhasil.
    (anjrot serius banget ya,maap pengaruh imlek.hehe..)

    regards,
    asfi

  19. Feb 7, 2008 at 2:16 am maria

    well di, blogging itu nyandu emang..gue aja jadi kaya pengen ngepost ngepost dan ngepost (meminjam istilah 3 suku kata bunda hetty)..haha..

  20. Feb 7, 2008 at 3:06 am Felix

    walah.. narsis na ga pilih2 tempat yah hihihi

  21. Feb 7, 2008 at 3:35 am iseng

    Bisa diliat umum gak kesaksiannya Dian Luther King, gak ada di you tube atau dimana gitu ya ? Pengen liat reaksi orang-orang dan suasana sidang pas ada yang bilang “Saya bermimpi, …”

    Btw website MFI itu .com, bukan .org

  22. Feb 7, 2008 at 3:39 am Asmaraning

    IBU KITA juga menangis putri………… seperti DRUPADI,yang dianggap barang sehingga patut dipertaruhkan di meja dadu oleh mereka2 yang mengaku sebagai PANDAWA……….sehingga DRUPADI itu ditelanjangi dan diperlakukan tidak pada tatanan yg sepantasnya oleh mereka2yang mempunyai watak dan nafsu sebuas raksasa,KURAWA!!!!!.Mengerikan putri,jika ibu kita itu bersumpah layaknnya Dewi Drupadi itu,hanya hendakmenggulung rambutnya setelah dijamasi oleh darah Dursasana,berarti tanah ini akan dibanjiri darah mereka2 yang berwatak khianat serta lancang!!!!!
    Tapi semoga jangan,karenanya tundukkan kepala kita di bumi ini,cium ibu kita dan rendahkan hati kita dihadirat DIA YANG MELIPUTI SEGALA SESUATU YANG ADA,Semoga ada TURUN KASIH disini karena memang putri, KASIH YANG MAMPU MEMPERBAHARUI segala sesuatu yang ada!
    Janganlah menangis puteri,………………….
    wassalam………..

  23. Feb 7, 2008 at 4:25 am Anang

    maju terus buat bangsa ini deh.. wah agak gendutan ya.. ati2 ndek, impotenmen paling sensitif masalah itu, kekekekeke… gmn?

  24. Feb 7, 2008 at 4:38 am Donxx xxxxx x

    Diandra Sastrowardoyo menulis:
    Ada moment dimana sempet pengen menangis, pas aku bilang,”Saya punya mimpi…, bahwa suatu saat bangsa Indonesia adalah bangsa yang berpikir…”

    Aku jadi ingat saat aku dan temanku nulis naskah film dokumenter kami ttg dan saat TAN MALAKA bermimpi melihat negeri yang makmur dan sentosa bernama Indonesia ternyata adalah ‘SOSIALIS’ (dasar pemikiran Buku MENUJU REPUBLIK)… dan film yang disangka/tuding akan atau men-’SOSIALIS’ ini yang membuat projek film kami bubar dan segera ‘angkat kaki’ dari jakarta ‘cari selamat’ dengan menghancurkan semua hasil riset selama 2 tahun yang dikumpulkan dari pamflet, buku2, brosur dan artikel pers (1911-1965) mulai dari belanda hingga bangkok dari leiden hingga canton

    Jadi ketika tahu tentang usaha dik diandra ini aku sangat terharu sekali… “PALANG PUTUS PANTANG PATAH PAMRIH PAMALI”

    sukses untuk dik diandra

  25. Feb 7, 2008 at 5:47 am Poltak Hotradero

    Cermin sudah ada sejak jaman Mesir Kuno. Dulu dibikinnya dari logam yang permukaannya diperhalus terus menerus (diamplas) sampai akhirnya bersifat reflektif dan bisa berfungsi sebagai cermin.

    Tapi mungkin ada benarnya juga bahwa cermin berkorelasi dengan ilmu merias diri, karena orang Mesir Kuno juga yang pertama kali menemukan dan menggunakan kosmetik.

  26. Feb 7, 2008 at 5:55 am Luthfi

    Kamu itu otaknya koq dangkal ya? Masak LSF mo dibubarin. Mau dibawa kemana negara kita ini? Kamu mau pilem2 yg menampilkan “kepolosan” wanita sampe masuk ke negara kita. Kamu bisa menjamin anak-anak abegeh ga sampai nonton. Bangsa kita ini berbudaya timur. Pengontrolan film-film itu masih dibutuhkan sebagai filter dari budaya-budaya barat yg belum tentu baik bagi budaya timur kita. Saya saja yg lama tinggal di barat masih menjunjung tinggi budaya timur dan saya bangga akan hal itu.

    Luthfi.-

  27. Feb 7, 2008 at 6:31 am didut

    BTW dian ini di belakangku asli ada blogger-blogger jalang yg lagi baca blog kamu
    *ada kopdar inepan dr jogja*

    mudah-mudahan hasil sidangnya bagus yah :D

  28. Feb 7, 2008 at 7:07 am achie

    waduh, hasrat wanita emang. gak bisa ngeliat muka sendiri di layar. bawannya pengen liat lagi, lagi dan lagi. xp

  29. Feb 7, 2008 at 7:13 am trias

    gile baru kmrn malem gue posting2 di blognya disas, pas pagi ini gue langsung buka…udah ada 2 postingan baru yg hangat banget buat di comment…dan sempat gue sesaat mikir kok ada aja ide buat nulis apa….gue aja kadang bingung mau nulis apa di blog gue…apa karena jarang banget yg comment di blog gue ya…jarang banget kalo dibandingin dis blok…tapi tulisannya itu gue senengnya kok pasti mengandung makna banget gitu lohhh….apa sehhhhhh guaaaaa

  30. Feb 7, 2008 at 7:39 am indo

    biar Dian tambah cinta sama Indonesia… *dengerin lagu ACI

    ACI

    hanya ada satu cinta….. dengan bumbu rindu selalu
    hanya ada satu rindu….. tanpa ragu tanpa cemburu
    hanya ada satu cinta…….. bukan tujuh bukan seribu
    cinta kita cinta bersama
    aku cinta indonesia
    a bisa amir ….ce bisa cici …..i bisa ito
    tapi a ce i ………
    aku cinta indonesia

  31. Feb 7, 2008 at 7:46 am juragan

    Aku dah baca komennya mbak dian di detik, kok banyak editannya ya? nggak kaya di blog ini. Apa interpretasinya wartawan detik ?

  32. Feb 7, 2008 at 7:53 am meidy

    tadi pagi saya nonton sebuah infotainment yang memuat berita tentang persidangan tersebut dan *teng teng teng* ternyata eh ternyata wajah anda tak hanya ada di layar gede setiap orang ngasih komen tapi di kamera infotainment ituh juga ada setiap kamera ituh nyenter orang yang ngasi komen wakakakaka….
    dan salut juga buat komen anda bahwa anda para seniman bukan ingin membuat film yang vulgar dengan pembaharuan fungsi LSF tersebut, karena awalanya juga saya bingung klo gak disensor apa gak vulgar tapi dengan pernyataan anda saya yakin para seniman memang ingin membuat para penonton indonesia lebih berpikir dan memberikan informasi yang ada dalam film secara utuh…
    gud luck untuk perjuangannya…..

  33. Feb 7, 2008 at 8:30 am GICM Aficionado

    Makin asyik nih baca tulisan Dian. Meluncur santai dan gak jaim … Long time fans … dengan blog ini jadi makin ngefans dah …
    Makin sering nulis pasti makin canggih … Sesekali isi shoubox di blogku ya … (Seakan akan ditandatangi artis :)

    http://grandeicecaramelmachiato.blogspot.com/

    Aku Cinta Indonesia

  34. Feb 7, 2008 at 8:48 am dillah

    wah seru juga ngeliat wawancara lo di infoteinment…berapi-api sekaleeee..hehehehe
    Bagian yang berapi menurut gw pas kalimat lo yang intinya lo anggep kalo ada pensensoran berarti rakyat kita masih bodoh.

    Hmm…menurut gw pensensoran itu perlu, misalnya adegan seks..apa ada suatu institusi apalagi perorangan yang berani jamin ga akan mempengaruhi pemikiran yang menonton. Umumnya artis2 bilang kalo itu semua tergantung orangnya..fine, tapi gmana dengan imbasnya…ada beberapa kejadian pemerkosaan dahulu yang ketika ditanya pelakunya terinspirasi dari goyangan “ngebor”, buat gw goyangan itu biasa ajah tapi coba liat imbasnya kepada korban pemerkosaan itu..dan gw rasa sang inspirator (dalam kasus ini si goyang “ngebor” punya tanggung jawab moral).

    Lalu statement menarik lainnya dari elo yang gw sependapat adalah “orang tuanya sendiri yang harusnya mendampingi anaknya ketika menonton”…setuju banget tuh gw, cuma apa menurut lo bisa dengan kesibukan manusia sekarang ini bisa selalu mendampingi aktifitas anaknya, lagian perkembangan anak kan ga cuma dari orang tua namun dari lingkungan juga…lo udah bener ngawasin anak2 lo, tapi ada temennya yang ga diawasi sama orang tuanya dan bergaul sama anak lo otomatis anak lo terkontaminasi kan, nature nya itu kan masa anak2 sampai remaja anak itu lebih condong ikutin lingkungan daripada keluarga.

    Bagi artis atau pekerja seni menurut gw kreatifitas itu perlu, gw pernah denger statment nya dedy mizwar yang di film nya itu dia menggambarkan kemesraan suami-istri bukan dari ciuman melainkan dari suaminya mendekap dan mencium selendang/jilbab istrinya, dan itu cukup merepresentasikan kemesraan suami-istri.
    Pembuat dan pelaku film harus memiliki tanggung jawab moral atas karya yang dihasilkan.

    yah ..ini cuma pandangan gw ajah…semoga makin cantik dan makin sukses yah ;)…oiya mau dong nonton bareng,heheheh [ngarep mode-on]

  35. Feb 7, 2008 at 9:34 am Zenstrive

    matanya sepet tapi tetep cantik juga

    jadi gimana, para hakim konstitusi itu takluk gak dengan rayuan mu ndek?

  36. Feb 7, 2008 at 10:04 am jokoparadise

    e allah di artikel ini aja sensornya.. berapa persen tuh.. 90% kayaknya di sensor..

  37. Feb 7, 2008 at 10:13 am Adhi P.

    Ano…
    Ini jadinya cerita tentang sidangnya Kak Dian (boleh kusapa gitu?) atao tentang bangsa ini yak..??
    Gomen ne..

  38. Feb 7, 2008 at 10:15 am Andriansyah

    Mbak bermimpi bahwa suatu saat bangsa Indonesia yang kita cintai ini menjadi bangsa yang berpikir………….. ehmmmmmmmmmmm apakah mbak juga pernah berpikir dengan kasus yang mbak hadapi sekarang ini,
    mbak and the genk….. dengan lantangnya berusaha untuk membubarkan
    lembaga sensor film……. tapi coba pikir sedikit, dengan bubarnya LSF berarti hilangnya mata pencaharian orang orang yg berkecimpung(bekerja ) di LSF tsb……berarti terputusnya harapan dan masa depan dari keluarga mereka…..berarti menambah lagi masalah buat bangsa ini……. cuba…. knp …mbak & the genk tdk buat film yang berkualitas yang tanpa harus membentur peraturan yg ada dl UU perfilman… toh masih banyak ide cerita yang menarik dari sisi sisi kehidupan ini yg bisa difilmkan tanpa harus mengedpankan hal hal yg berbau pornografi dan sara…..

    I think that’s a little comment from me…..

  39. Feb 7, 2008 at 10:24 am noenndestination

    mbak dian, itu kayaknya link masyarakat film indonesianya salah deh, bukan wordpress.org, tapi wordpress.com, begitu kira2 koreksi sedikit dari aku. makasih..
    selamat nge-blog.. ;P

Halaman: 1 2 3 4 5 6 » Show All

Post a comment