Kemaren, gue ketemu sama si Iwang dari AhmettSalina. Inilah tim yang terdiri dari mereka yang genius, antara lain telah sukses membuat kampanye ChangeYourself dari beberapa tahun terakhir.
Gue cukup beruntung, bisa betatap muka langsung dengan frame “Being Happy on Other’s Grief” yang sangat legendaris itu.
Saat ditanya tentang ide di balik frame tersebut, si Iwang bilang kalo kita kadang suka secara nggak sadar bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Dulu frame virtual itu paling sering ditempelkan ke sosok mantan Presiden Suharto, karena banyak klaim bahwa dia dan kroni-kroninya menikmati kekayaan dan hidup enak di atas penderitaan rayat miskin bangsa ini.
Tapi sekarang, setelah Pak Harto belakangan jatuh sakit, dan kemarin baru aja meninggal, kok sekarang banyak juga di antara kita yang seneng-seneng aja di atas penderitaan dia dan keluarganya. Kayaknya itu juga nggak bener deh. Berarti kita juga nggak lebih baik dari dia dong!?
Si Iwang memang genius dan berani. Ide-idenya (salah satunya soal menjual Lumpur Lapindo untuk kemudian didonasikan kembali itu) adalah untuk membangun interaksi humanis lagi di dunia urban yang sangat mendiskonektifkan satu manusia dengan manusia yang lainnya.
Untuk melihat kampanye-kampanye mereka lebih jauh: www.ahmettsalina.com
Jan 30, 2008 at 10:15 pm dudi
cari orang punya idealisme seperti mereka di jaman seperti ini. salut deh buat usaha mereka untuk membuat dunia lebih baik.
perkenankan gw angkat topi untuk mereka :)
Jan 30, 2008 at 10:22 pm Dian Sastro
Iyah…, aku juga senang sekali bisa kenal sama mereka. Pasti juga masih buanyak sekali orang2 kaya mereka di luar sana… Hayooo who ever you are show your self!!!!!!! perjuangan itu harus mutual!!!!
Jan 30, 2008 at 10:30 pm didut
*menuju TKP*
Jan 30, 2008 at 11:21 pm antobilang
wew, produktif juga mbak dian ini, dah berapa post nih sehari :D
ah, ikut2an didut ke TKP ah…
Jan 30, 2008 at 11:39 pm Rimba
wah, padahal tahun lalu di bandung ada art performance dengan media lumpur lapindo itu loh…
Jan 31, 2008 at 12:42 am Supermoto
Ah mengenai Pak Harto Meninggal, santai-santai aja….dimana ada kesenangan juga ada kesusahan. Udah hal yang jamak di dunia ini Sis.
Bukannya kita nggak lebih baik dari beliau. Gak baik juga diratapi.
Untuk membantu korban lapindo…kalo bisa dikoordinir….sepupu saya ada yang jadi korban sih..
Makam Kakaknya Mbah saya udah terendam, kalo nyekar suseh hehehehe.
Jan 31, 2008 at 1:08 am Dian Sastrowardoyo
ya itu dia…, bener ya mas???
ngomong2 TKP itu apa siiih???
Jan 31, 2008 at 1:22 am antobilang
TKP tuh mangsutnya seperti TKP2 di berita kriminal :P tempat kejadian Perkara, ya gitu deh blogger kalo dikash link, maksudnya langsung menuju link http://www.ahmettsalina.com :D
Soal mengkoordinir bantuan lapindo, mugkin perlu ada event “Blogers For Lapindo”? Tapi bentuk kegiatannya apa dunks?
Jan 31, 2008 at 1:28 am Supermoto
TKP=tempat kejadian Perkara—>menuju webnya ahmettsalina.com
hehehe….begitu mbak Dian….
Jan 31, 2008 at 1:37 am leksa
Oh Gosshhhh ….
ini benar Mbak Dian ….??
makasih buat Ndoro yang udah ngasih tahu link ini …
Langsung aku pasang news reader Mbak .. :)
Jan 31, 2008 at 1:40 am Supermoto
Halah telat kedhisikan AntoBilang
Jan 31, 2008 at 1:42 am leksa
tentang Pak Harto…
harusnya adil mbak …
kita yang jadi manusia Indonesia adil menilai tentang beliau,..
dan Almarhum diwakili keluarga juga adil ke Masyarakat Indonesia…
ini diluar kepentingan2 politik kroni2 Alm. , yang tentunya lebih susah lagi menilai apa itu “Keadilan”
Feb 4, 2008 at 1:22 am antown
antobilang (Soal mengkoordinir bantuan lapindo, mugkin perlu ada event “Blogers For Lapindo”?)
ya sudahlah…
saya aja yang nerima bantuannya sebagai perwakilannya. Gimana?
HIDUP deltras!!
antown.blogspot.com
Feb 10, 2008 at 8:37 pm Kasturi Kijang
I always prefer to believe the best of everybody - it saves so much trouble.
Tuhan itu memberi 3 hal kpd manusia…ujian, teguran dan hukuman…
bahkan yg membuat seorang DS menjadi ‘besar’ pun adalah ujian dan cobaan. semua usaha2 elo untuk bisa maju dan tumbuh besar adalah bentuk pengejawantahan ujian tuhan yg diberikanNya kp loe.
klo gw lg kesasar trus ada org yg menegur dan ngasih tau mana jalan yg bener, gw akan berterima kasih sekali.
selama ini kita terus menuntut kpd tuhan “Mana keadilanMu?”, oleh karna itu, ketika tuhan menunjukkan keadilannya, ya jangan komplain donk.
Bagi si bodoh, setiap aspek dunia adalah belenggu. Bagi si arif, setiap keadaan adalah kesempatan untuk bebas. Lagipula, buah yg belum matang, tidak tau bagaimana rasanya siap. Masa-masa ujian adalah tungku perapian untuk membersihkan perak dari kotoran. Bagaimana engkau akan menjadi cermin bening bila engkau tidak suka dibersihkan?
Feb 14, 2008 at 2:53 pm -imam-
Yah wajar mbak kalo SECARA GAK SADAR seneng-seneng diatas penderitaan orang lain, kayak misal kita seneng-seneng di dalem becak, tukang becaknya menderita nggenjotnya hehe…lho kan dibayar?? lah, gak nyambung ya :))
Tapi yg penting…asal kita bisa sadar aja…kalo TERNYATA kita SUDAH seneng-seneng di atas derita orang lain…angkat topi kalo mbak dian bener-bener bisa sadar….semoga bukan sadar sesaat
CHeers
Feb 16, 2008 at 12:19 pm Ade Putri
Yea, Iwang rocks!!!
Dan dulu campaign dia yang langsung gue praktekin adalah, “Quit your job!” :D
Feb 17, 2008 at 7:52 pm muktihadid
Ass, Lumpur Lapindo adalah bukti betapa tak kuasanya manusia melawan kuasa alam, namun anehnya masih saja banyak manusia yang berani melawan alam, ya sudah, akhirnya lumpur menenggelamkan komunitas masyarakat yang ada di sekitarnya, kasihan sekali mereka, betapa history, memory turun temurun, ekologi tempat tinggal mereka tenggelam ditelan bumi,menyisakan kepedihan dan trauma yang tak terperikan, sudah sulit untuk menghitung kerugian materil/immateril yang ditanggung oleh mereka, sampa-sampai mas Doyok pelawak menangis beneran (bukan lg akting) tersedu2, sembab pipinya menyaksikan kuburan salah satu sanak keluarganya terkubur oleh luapan lumpur Lapindo, klo harta yang tertimbun atau terkubur sudah biasa, tapi klo kuburan terkubur apa jdx? kuburan terkubur diatas kuburan lumpur panas, pasti para arwah yang kuburannya terkubur diatas kuburan itu mengumpat dan menyumpahi orang2 yang menyebabkan bencana lumpur itu, agar mereka mendapat nasib yang lebih parah dari yang ditanggung oleh korban lumpur Lapindo. Pada dasarnya bencana yang terjadi adalah karena kelalaian dan kerakusan manusia dalam mengeksploitasi alam, jadi jangan salahkan alam jika luapan lumpur Lapindo tidak dapat dibendung dan dihentikan oleh teknologi yang ada yang sampai akhirnya luapan lumpur itu akan membelah p.Jawa sehingga menjadi peta baru Indonesia. Yang bisa menghentikannya adalah kejujuran para Jajaran Lapindo sendiri untuk bertanggung jawab mengurusi para korban lumpur Lapindo secara tuntas.
Salam untuk Cahaya yang lemah lembut (Jeng Dian Sastro) & ahmettsalina, God Bless you!
Feb 25, 2008 at 10:56 am Basz
mengenai pak harto, ada satu tulisan dari ust yusuf mansur yang rasanya patut untuk kita ambil hikmahnya :)
***
Sebatas Aku Mengenal, Sebatas Aku Merasa
Ust. Yusuf Mansur
Saya dilahirkan di zamannya Soeharto. Tapi saya belum memahami peta perpolitikan, khususnya di urusan kepemerintahan. Hingga kemudian saya ditakdirkan oleh Allah menghiasi negeri ini dengan konten dakwah: Sedekah.
Dan ini membawa saya kepada pertemanan dengan satu dua keturunannya Soeharto.
Tahun 2003, saya sempat ke rumah Cendana, ke kediamannya beliau. Dan saya mendapati rumah yg begitu sederhana. Seperti rumah kebanyakan. Tidak tampak sebagai rumah orang yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini. Saya pun mendapatkan ceritera dari pengawalnya beliau, bahwa Soeharto rajin zikir dan puasanya. Sejak dulu. Subhaanallaah.
Saya sempatkan melihat kamarnya Soeharto. Masya Allah, asli. Kamar itu begitu sederhana untuk ukuran seorang mantan pemimpin bangsa.
Hari kesekian Soeharto dirawat di RSPP, di menjelang hari2 terakhir, saya disms oleh keluarga Cendana untuk menengok Eyang. Begitu bahasa baru saya untuk beliau, mengikuti panggilan2 keluarga Cendana. Dan di sana, saya membacakan Ismullaahil A’dzhom, yaitu 3 ayat terakhir Surah al Hasyr,
surah ke-59.
Dari pengetahuan yg saya dapatkan, kata Rasulullah, sesiapa yang membaca ayat ini di pagi hari, maka Allah akan menguasakan 70rb Malaikat-Nya untuk urusan dia, mendoakan dan bershalawat untuknya, untuk yg baca. Dan itu sepanjang pagi, sampe ashar. Dan kalau dimulai lagi habis ashar, maka 70rb malaikat tsb akan terus bekerja sampe pagi.
Dan saya melihat, alhamdulillah, nampaknya Ismullaahil A’dzhom ini cukup dinikmati. Di akhir2 ini, di mana semua harga naik, kondisi tidak stabil, kerusuhan di mana2, rupiah turun harganya, minyak tanah langka, bensin naik… Maka mulailah telinga ini mendengar bahwa lebih enak di masa Soeharto.
Bahkan saya punya office boy di pondok, seorang betawi asli, bicara begini, “Kalo Soeharto bangun nih (dari sakit maksudnya), terus dia ikut lagi pemilihan, pokoknya gua mah nyolok dia dah…”. Subhaanallaah, ungkapan ini meski tidak arif, dan cenderung seperti tidak percaya dg pemerintahan sekarang, tercermin betul bahwa Soeharto pun punya kenangan tersendiri di hati masyarakat Indonesia.
Kalo saya pribadi, percaya dengan pemerintahan sekarang. Dan lebih memilih berdoa untuk kebaikan pemerintahan, negeri ini, dan bangsa ini.
Kembali kepada Soeharto, memang jujur saya katakan, masa2 kecil, ketika SD, SMP, SMA, nilai2 patriotik begitu tertanam. Lagu Indonesia Raya, betul2 menjadi lagu bangsa, yg menggetarkan kalbu. Minimal setiap upacara. Lagu2
Garuda Indonesia, susunan kalimat Pancasila, dan hal2 patriotik lain, Alhamdulillah, seolah menjadi bahagian dari seluruh pelajar saat itu. Tidak terkecuali saya, seorang pelajar kecil di antara puluhan juta pelajar yg ada.
Namun sekarang, memang berbeda situasinya. Dulu, menteri2 kita hafal. Sekarang, saking cepatnya silih ganti, anak2 sekarang ga kenal. Anak saya sendiri, parah di urusan kenegaraan. Dia, di usianya yg ke enam, tidak
fasih dan tidak lancar menyanyikan lagu Indonesia Raya, tidak tahu Pancasila itu apa, dan tidak memahami pegimana dan seperti apa Garuda Pancasila kita. Parah.
Dari sisi ini, kenangan thdp Soeharto masih hidup di masyarakat. Namun kita hidup di masa kini. Sekarang, di pundak pemerintahan sekarang inilah nasib bangsa berada, bahu membahu dengan masyarakatnya untuk kemajuan demi negeri ini.
Hari ahad, 27 Januari, jam 11.34 saya mendapat telpon dari salah satu keturunan beliau. Namun karena posisi saya sudah ada di masjid, bersiap menunggu datangnya waktu zuhur, telpon itu saya ga angkat. Ga pernah berpikir sama sekali bahwa kondisinya sdg kritis.
Saya santai aja. Sambil kemudian membaca asmaaul Husna bersama santri, dan kemudian shalat berjamaah. Habis shalat, saya menerima2 tamu yg datang ke pondok. Di antaranya dari Semarang, dari Lampung, dan dari jabodetabek.
Selesai2 nerima tamu, jam 13.20. Saya kemudian menelpon yg bersangkutan. Ga diangkat. Sesaat kemudian, saya ditelpon balik, dan datanglah khabar bhw Soeharto meninggal dunia. Masya Allah, innaa lillaahi wa inna ilaihi rooji’uun.
Sesaat kemudian saya nyampe rumah, dan saya hidupkan televisi untuk melihat situasi. Setelah itu berangkat ke Cendana. Karena saya pikir, pastilah ga keburu ke RSPP lagi.
Menjelang berangkat, saya melihat Presiden kita, SBY, memberi pidatonya, melepas kepergian Soeharto. Saya terharu. Presiden SBY kalimat2nya masya Allah, menyentuh, kentara sekali berasal dari lisan yang punya kebesaran hati, kebesaran jiwa. Beliau bahkan membatalkan kepergian untuk membuka salah satu konferensi di Bali. Bahkan di ujung kalimat SBY, ada suara kedamaian ditengah kepemimpinan nasional yg bagi masyarakat bawah melihatnya tidak ada kedamaian, tiba2 Pak Presiden SBY, mengagetkan saya. Mengharukan.
Seorang SBY kemudian bicara, kurang lebih isinya: “… bagi saudara2 yang muslim, mari membacakan al Faatihah…” .
Wah, saya mendengarnya sebagai kalimat yang luar biasa. Bangga saya dengan SBY. Saya lalu menunggu momen2, apakah terus membacakan atau sekedar himbauan. Ternyata SBY membacakannya! “… Al Faatihah!”, begitu katanya memberi komando. Saya pun otomatis membacanya juga. Dan saya yakin, seratusan juta muslim Indonesia yang melihat dan mendengar SBY memimpin al Faatihah untuk almarhum Soeharto, pasti ikut membaca.
Begini ini kan rahmat. Mudah2an wafatnya Soeharto, membawa banyak hikmah. Di antaranya perdamaian. Dan mudah2an Soeharto diampunkan Allah. Selamat jalan Bapak Bangsa. Saya akan mencatat Bapak sebagai almarhum yang sholeh, yang senyumnya ngangenin, yang pernah membuat sejarah.
Semoga Allah, Zat Yang Lebih Melihat Kebaikan Seseorang, lebih melihat kebaikannya almarhum. Amin.
Feb 26, 2008 at 3:48 pm david beast
mbak kalo lumpurnya dijual online g juga mau tuh beli, itung2 bantuin deh…he..he..
iwang is my hero
Mar 4, 2008 at 6:14 pm Hartono Benny Hidayat
di makassar ada ibu yg sedang mengandung dan seorang anak meninggal karena tdk makan selama tiga hari……smoga dr peristiwa ini kita dpt saling berbagi….
Cahaya Doa
http://www.duniasastra.com
Ketika malaikat -malaikat sedang bertasbih dari setiap pintu-pintu langit ,
Bergetar sayap-sayap mereka ,
kemudian malaikat -malaikat tersebut mengadu kepada Rabbnya,
“Ya, Allah Ya Tuhan kami, cahaya keindahan apakah yang baru saja melintasi kami,
yang terangnya nyaris sama dengan keindahan wajah-Mu, sehingga sayap-sayap perkasa kami dibuat kaku olehnya ?!
Dari balik singgasana-Nya kemudian Ia berfirman :
“Cahaya itu adalah doa yang diucapkan lidah seorang hamba-Ku yang teraniaya !”….”Keperihan jiwa telah membawa hatinya pada-Ku !”
“Aku bangga kepada jiwa ini !…disaat Aku mengujinya dengan dua jenis rasa lapar..dia selalu bersyukur dan berbaik sangka pada-Ku!”
“Tahukah engkau dua rasa lapar itu ?!”,
Yaitu ketika seorang hamba ditimpa oleh siksa kelaparan yang teramat, maka jiwanya berkata pada-Ku :
” Sang Terkasih sedang bertandang dirumah jiwaku, ketukan Tangan kasih Nya menyapa ususku yang selalu suci , maka ketika aku mati, bukan engkau yang mencabutnya, tapi Dia yang menjemput nyawaku disini!”
Lapar kedua ; yaitu saat ia diuji oleh rasa kenyang, maka jiwanya berkata pada-Ku ;
“Yang Maha Pemurah telah memberikan rizkinya yang telah dijatah padaku , maka aku tidak akan merebut diluar selain apa-apa yang telah ada dalam genggamanku,
kemudian hadiah pemberianNya- kubagi lagi pada sesama sebagai rasa syukur ku kepada-Nya !”
“Tahukah ‘ rizki ‘ yang hambaku maksud dipenghujung ajalnya ini , wahai malaikat ?!..yaitu sesendok kerak nasi, yang berkuahkan airmata syukur !”
Hartono Beny Hidayat
Selamat hari Idul Adha saudara-saudaraku, kalau ada kelebihan rizki jangan lupa berkurban yah ( kurban dalam aspek luas ), kalau hari ini lupa, besok jangan lagi !
2004
Mar 10, 2008 at 11:35 am widy
mba dian…koq gaperna nongol..!?!?..bisa bantu buat propaganda anti bhp ga..!?!?!…
Mar 14, 2008 at 7:55 am HIRUMI
“Do you believe in the lifeafter?”
is the question strangely often appears in movies.
But it is the key, where your heart runs and acts. Those stupid believer are being laughed for their saying: “This is indeed the wrath of God.”
And those foolish dreamer, who dream to reach the sky are being mocked as they keep patient in the name of their God not to rebel to the government.
Can you judge things with your heart? You call it humanity, All of you.
Can you decide right and wrong using your heart? Is “Lumpur Lapindo” is the warth of God or merely human error, unpredicted one.
What looks right doesnt always right and what looks wrong doesnt always wrong. Something you like is not always be right/good for you. So with what you’ll decide? Your actions, your thoughts?
Is what is done by ahmettsalina right?
Human are indeed strange they would always say: “I dont know, I do what I think is right. You cant blame, how’s it if they right?”: Relativism again.
Are you Goddess, You, who bear the word “perfect”? A goddess who cant grow old and dies, who judge people.
Mar 15, 2008 at 11:11 pm paijomblo
oooo… ternyata dian punya blog to…
baru tau. lumayan keren … wah klau ngomongin lumpur, aku jadi inget kue lumpur bikinan ibunya tmenku, anak rawamangum. ueeeenak tenan… tapi klau lapindo punya cerita, kayaknya emang sulit. lha wong biang keroknya malah jadi menkokesra(mentri kesengsaraan rayat). khan blaik itu… agaknya sby punya utang budi pas kampanye dulu. dan aku cuma bisa mendoakan smoga korban lapindo tabah n mendapatkn segera hak2nya. buat sby mbok yao mentrimu itu diurus, wong dah masuk top ten orang trkaya seasia mosok gak mampu bayar gnti rugi, eee malah katanya mau diambilken pake apbn…. adududududuhhhhhhh
meranana nian bangsaku ini…. (biar, sengsara asal gak nyengsarain yang lain)
buat dian salut, tapi humanity dtambah dong…. salam jomblow
Apr 4, 2008 at 7:56 am cakra
Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain menurutku sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap manusia dan tak akan pernah luput dari tindakan kita. Disadari atau tidak itu akan terjadi, namun seharusnya kita meminimalisasi tindakan itu dengan cara menghargai orang lain dan tidak bersifat “munafik”.
Apr 4, 2008 at 3:38 pm korbanlapindo
Salam,
Ditunggu neh kongkretnya ide “bloggers for Lapindo (maksudnya victims kan, bukan utk LBI-nya kan *khawatir ke’ge-er’an?).
Kalo sy sih punya beberapa bayangan sederhana gini. Klo kami demo, nanti kami publikasikan ke kalangan blogger, lalu pada hari dan jam yg ditentukan, blogger kirim email atau apa gitu, secara bersamaan ke pemerintah atau lapindo, jadi demo digital gitu. Bisa gak yach?
Terus klo yg sifatnya membantu korban secara beban ekonomi, sy mikir kalo ada website, yg dapat duit per click, kita minta bloggers utk kunjungi website ini tiap hari sekali. Nah, ntar duitnya disalurkan untuk korban (caution: klo utk urusan bantuan2 gini, plz be very ati2 identifikasinya, biar gak salah sasaran, dan gak bikin saling curiga dan tengkar antar korban sendiri!)
That’s it, any comment?
korbanlapindo
Apr 17, 2008 at 1:31 am Bijirin
Kita memang masih harus belajar untuk memikirkan orang lain.
May 4, 2008 at 4:33 pm ILYAS AFSOH
Setiap usaha kebaikan dan perbaikan, saya sangat mendukung
Menjadi lebih baik adalah jiwa kehidupan
http://www.ilyasafsoh.wordpress.com