January 23rd, 2008

The future is the children

Ini juga sebenernya terintegrasi dari waktu malam itu aku nggak bisa tidur dan geregetan setengah mati. Aku sok sok-an menulis dengan dua bahasa gitu.., hueheheheh dan beginilah akhirnya, jadinya: jauh banget satu sama lain. Udah seakanakan bakal pidato dimanaaaaa gituh. heduhhhhh… maklum ya, daya imajinasi saya cukup kuat… :p

I believe in a better future. And the future is the children. I want to inspire children to dare to think, to learn, and most of all to never lose hope.

Children now are not educated, depressed, and confused. They learn to play video games and access the internet. They don’t realize that they are Indonesian next hope to liberation, and they are the greatest investment that will ever be.

They have the right to be happy, loved, and nurtured. Most of all they have the right to play. They will grow fully to be an independent human being only when they have all this.

There are 41 comment for this entry.

  1. Jan 30, 2008 at 5:36 pm nuy kidy

    Yang saya sedih, bukan video game (yang belum tentu ada di setiap rumah pa lagi di pelosok) ma internetnya (penetrasi internet masih sangat rendah di indonesia) … tapi acara TV-nya. Penuh dengan tayangan TV lokal yang kebanyakan amat sangat tidak mendidik sekali banget. No offense, that’s the fact.
    Dan tayangan-tayangan itu begitu menjadi candu bagi para orang tua, yang berimplikasi mereka tidak lagi aware akan konten tayangan tersebut bagi anak-anaknya. Tidak ada lagi pendidikan untuk mengasah EQ mereka.
    As u said, they became “uneducated”, depressed and confused. Sedih, kebayang angkatan kita nanti kalo punya anak bakal blingsatan melindungi mereka serbuan budaya ini.

  2. Jan 30, 2008 at 6:08 pm jalansutera

    jadi inget lagunya George Benson, ya…. yang judulnya The Greatest Love Of All
    ….

    I believe the children are our future
    Teach them well and let them lead the way
    Show them all the beauty they possess inside
    Give them a sense of pride to make it easier
    Let the children’s laughter remind us of how it use to be
    Everybody’s searching for a hero
    People need someone to look up to
    I never found anyone to fulfill my needs
    A lonely place to be
    So I learned to depend on me
    Chorus:
    I decided long ago, never to walk in anyone’s shadow
    If I fail, If I succeed
    At least I live as I believe
    No matter what they take from me
    They can’t take away my dignity
    Because the greatest love of all
    Is happening to me
    The greatest love of all
    Is easy to achive
    Learning to love yourself
    It is the greatest love of all
    I believe the children are our future
    Teach them well and let them lead the way
    Show them all the beauty they possess inside
    Give them a sense of pride to make it easier
    Let the children’s laughter remind us how we use to be
    Chorus
    And if by chance that special place
    That you’ve been dreaming of
    Leads you to a lonely place
    Find your strength in love

  3. Jan 30, 2008 at 8:09 pm didut

    yap .. let them play on real air and breath on real world …
    I also believe that we have responsible to give more clean world to our future children and next generation …. SAY NO TO PLASTIC!!!!!! *gaknyambungmodeon :P *

  4. Jan 30, 2008 at 8:16 pm sarkamin

    yah itu dikembalikan ke ortu masing2 kan

    btw
    ndak semua dunia internet jelek
    contohnya ini dunia blog

  5. Jan 30, 2008 at 10:20 pm Yudhis

    senang sekali masih banyak yang peduli dengan nasib para calon penjaga bumi pertiwi :)

  6. Jan 31, 2008 at 12:39 am Dian Sastro

    Iya aku banyak setuju juga tuh Nuy Kidy, anak2 sekarang nggak ada lagi yang tau gimana cara main benteng, galasin, bola bekel, main karet, main conklak, tak jongkok, tak umpet. Walaaaahhh……, susah sekarang. mau ngajarin adek sepupuku tentang ‘konsep’ main benteng aja kan susah banget. Gimana coba…. itu kan emang harus pake praktek.

    Dulu waktu aku SD, suka dicuekkin sama temen-temen yang lain kalo belom bisa main karet. Dulu kita aktif banget ya… lari larian terus tiap hari. Keringetan itu hal normal yang mutlak dialami oleh anak-anak. Sekarang mereka cuma di depan TV, bengong, 5-8 jam sehari, nggak mikir, nggak kreatif, nggak aktif, dan belum lagi cara pikir yang selalu membodohi itu lho!

    Gimana mereka mau deket sama alam??? Bener katamu Dut,mana mungkin mereka merasa punya kepentingan terhadap alam, kalo manjat pohon aja nggak pernah.

    Waktu TK dulu, aku tinggal di rumah eyang di Cirendeu Tengah. Taun 1987 dulu, di sana masih kampung asli, jauuuh sebelum ada Bali View. Aku ‘ngegang’ sma anak rumah sebelah orang Betawi asli yang namanya Agus. Waktu musimnya tiba, kita ke lapangan depan balai desa, karena pohon asemnya berbuah buanyaaaakkkkk sekali. Kita rame2 sekampung manjat pohon asem itu(pake tangga dulu sih awalnya karena pohonnya udah lumayan tinggi) terus harus menggoyangkan dahan-dahannya, biar buah asemnya jatoh ke bawah dan bisa dipungutin sama orang2 sekampung.

    Sekarang pohon itu udah mati, dan ditebang. Karena terakhir kali lebaran aku kesana, di tempat berdirinya pohon itu, sekarang berdiri sebuah rumah gedongan yang bwessssSSSSaaaarrrrr sekali.

    aku kangen masa-masa cemongan itu..

  7. Jan 31, 2008 at 12:40 am Dian Sastro

    O iya, aku juga suka banget lagu ituuuuuuuuu!!!!!!!! indah sekali yaaahhh liriknyaaaa… aku suka nyanyiin lagu itu… huwaaalaaaaah nggak nyampe siih nadanya!!!!

  8. Jan 31, 2008 at 1:40 am mathematicse

    Mmmm.. ya bener anak-anak jaman sekarag perlu and butuh diperhatikan… soalnya kebanyakan ortu2 sekarang tuh mikirn kareir. Sedangkan anak2nya dibiarin keleleran…. :D

  9. Feb 4, 2008 at 1:39 am Okto Silaban

    Jadi apa yang sudah dikau perbuat untuk membantu anak2 ini menjadi sesuai harapanmu?

    *kalo aku sih bilang.., ini udah masanya..
    Sama waktu orang2 tua jaman sekarang bilang ke aku waktu masih anak - anak..
    “Ah.. kalian itu tidak seperti waktu kami dulu masih kecil. jam 4 pagi kami udah ke sawah, mulai ngurusin sawah.. Jam 5 pagi udah ngerebus ketela buat sarapan. Habis itu jalan kaki 5 km ke SD satu - satunya dikampung. Kalian jaman sekarang malasnya minta ampun..”

    Mengapa tiap generasi selalu membanding - bandingkan?
    *karena aku pun seperti itu :(

    Ahh..

  10. Feb 4, 2008 at 4:20 pm icha

    Gw setuju banget kalo the future of Indonesia is children. Tapi yang gw bingung kenapa masih banyak anak-anak yang putus sekolah, anak-anak yang bersekolah di gedung yang sangat tidak memadai untuk proses belajar mengajar (*kalaupun ada.. orang tua harus membayar mahal untuk itu) dan masih banyak masalah di bidang pendidikan lainnya.

    Itu sebenarnya pe’er pemerintah kita supaya generasi kecil kita pada maju, cuman sampe saat ini gw sendiri belum melihat hasil nyata dari pemerintah. Tapi harapan gw, generasi kita yang sekarang sudah care dengan future generation dapat lebih sensitif dengan pendidikan dan sistem pendidikan di Indonesia.

    Semoga apa yang dipikirkan mbak Dian dan teman-teman dapat merealisasikan apa yang dibutuhkan oleh future generation, sehingga nantinya dapat muncul leader-leader yang bersahaja yang dapat memimpin Indonesia untuk kepentingan rakyatnya.

  11. Feb 4, 2008 at 9:01 pm luci

    yah mungkin anaknya konlomerat kali kebanyakan yg ky gitu :o3

  12. Feb 5, 2008 at 12:29 am dumboy

    yup,
    let them PLAY!
    let them feel our love,
    but don’t forget to love our parents, before we lost it (sorry curhat dikit =p)
    their was a children too, but bigger now! hohoho…

    , lv u mom
    peace out

    -d-

  13. Feb 5, 2008 at 8:39 pm Haikal

    Ehmmm…

    Mikirin anak-anak calon penerus bangsa, nampaknya tak bisa lepas dari membaca diri kita sendiri, apa yang telah kita lakukan, anak-anak mau jadi hitam atau putih, kita ber-kontribusi, mari mulai lakukan sesuatu yang nyata walau kecil, untuk The Future…

  14. Feb 6, 2008 at 3:38 pm Andika

    Wah jadi ingat satu tulisan pada Kumpulan tulisan.. ” Sekolah Itu Candu ” yang dika pinjam tapi ga pernah dibalikin ke orangnya he..he,tentang anak-anak, anak palestina yang dari kecil udah diajarin tentang revolusi sampe cara angkat senjata hingga lupa bermain,trus ada anak Indonesia yang terpaksa kerja dijalanan. Sdikit beda,tapi anak2 tetap kehilangan kasih sayang dan persahabatan

  15. Feb 6, 2008 at 5:03 pm yanworks

    couldn’t disagree with you, this posting shows an intelegence of philosophy scholar. (am i right?)
    (comment yang sama, beda bahasa - kayak postingnya)

  16. Feb 7, 2008 at 2:55 pm atrix

    1 hal yang pasti dian, baik video game, tv, internet menularkan addiction yang negatif bagi anak2.

    namun ada koq hal positif yang bisa dimanfaastkan dari media2 ini, asal benerin aja ngarahin nya.

    masalahnya kembali ke aturan2 konservatif yang kurang tanggap, yang corporate oriented dan banyak lagi ah .. males nyebutinnya atu-atu .. hehe ..

  17. Feb 11, 2008 at 9:57 am ima

    Nice post!

    Aku jd punya alasan ‘tuk bergembira kalo ada ‘adek2′-ku yang mohon bimbingan buat bikin aplikasi2 yg user targetnya adalah anak2, entah itu untuk belajar bahasa, membaca, menulis, menyanyi, ..

    Kalau tadinya aku seneng [cuma] gara2 mereka concern dengan tampilan yg lucu buat menarik perhatian anak2 targetnya, milih kata2 yg bisa dimengerti anak2 usia tertentu, … sekarang jd makin seneng karena [semoga] aplikasi tersebut bakal bisa bikin calon2 penerus kita makin pinter, tidak hanya lewat materi yg disampaikan tp juga dalam penguasaan teknologi yg digunakan.

    Jadi inget.. salah seorang temen kerja pernah bawa anaknya (usia sekitar 2 tahun) ke ruangan. Kami2 yg masih single jg heboh berebut ngajak si anak lucu main2 bareng. Ternyata.. cukup susah lho, ngenalin anak2 sgitu ke mouse! Dia bingung, kok ini (mouse) digerak2in trus ada yg gerak2 juga di itu (monitor)? Hihihihi.. refleksnya, si anak ini bakal mencet2 monitor! Wahhh.. monitorku bukan touch screen tuh!

    Paling setuju ma komen Haikal: mulai dari diri sendiri deh.. Apa yg bisa kita sumbangkan buat mencerdaskan generasi penerus bangsa ini?

  18. Feb 12, 2008 at 12:10 am zahra

    hmm…mba dian komennya ekspresif bgt.

    actually, kita ini berdiri di negara yg masigh kurang memperhatikan anak2. dari mulai edukasi (ini ga hny lmbg sekolah aja yg berperan), kesehatan (indonesia sngt buruk), sosial (pergaulan), perlindungan/keamanan (hak), kasih sayang, dll. Banyak orang tua yang merasa mengerti anaknya, ttp tidak mengerti. Sekolah pun yang seharusnya mnjadi second line u/ pendidikan dan pengajaran, nampak tdk bisa diandalkan lg. Lalu pemerintah, yang seharusnya lebih intens dengan masalah anak2, seolah2 menutup kedua matanya. So, shrsnya ke3 elemen tersebut dan masyarakat sadar akan bahaya dan ancaman yg directl/indirectly sdg memupuskan harapan dan masa depan anak2 kita. jadi, supportlah anak2 kita ke arah yg lebih baik. ciptakan iklim tersebut dimulai dr diri kita (krn kita adalah imitator yg baik bagi anak kita sendiri). dan yang terpenting kasih sayang. bukan hanya sayang thd anak/sodara sendiri, tp anak2 di seluruh dunia yg mbutuhkan kasih sayang…

  19. Feb 12, 2008 at 1:20 pm andini

    hi dian..,
    aku trenyuh banget ni baca postingan ini..

    beberapa minggu yang lalu adik laki-lakiku, yang baru berusia 9 tahun, ternyata disodori film xxx di warnet oleh temannya teman adikku (pusing deh bacanya) yang usianya sekitaran 13 tahun.

    ketika akhirnya dia menceritakan kembali pengalamannya dengan bahasanya sendiri (seperti: yang laki-laki nyelipin ke perempuan. perempuannya banyak, dll), aku hancur tercerai berai. kami semua menjaganya, mencintainya, memberinya yang terbaik. temannya pun sudah disortir, tp tetap saja lingkungan merampasnya.

    masih harus disyukuri, pengalamannya hanya sebegitu.

    pada akhirnya memang problem solved. hanya saja ga terbayang gimana dg anak2 di sekeliling kita yang mungkin nggak punya perlindungan, ga dapat kasih sayang, ga punya teman cerita di rumah (atau kalaupun punya sudah ketakutan untuk cerita) atau tempat bertanya mana yang benar, mana yang salah.

    setelah urusan sensor film kelar, ikut gerakan perjuangan hak anak dunk, dian..
    kan the future is the children!!

  20. Feb 12, 2008 at 3:35 pm HIRUMI

    It is destined that there will no better future. So children will only fed by their own parents’, society’s ideologies, hopes. While the world becomes more and more independent, like it doesn’t need any rule.
    Ideologies are written on a society slowly: changes cannot be avoided.
    Still, only small scope of human who are educated enough who can filter them. You all see how freesex is considered normal thing in part of this universe. And it begin to be written in Indonesia -began while that beautiful small kiss of yours.
    People cant escape, many have been swallowed; even children. Who is to be blamed?

    Japanese children have been fed by a small homework which is:
    “Who am I?”
    And we are still stuck here, no children who would answer:
    “I am going to the ’sky’”
    yet they are being laughed at.

    So, what kind of hope you all have to our children. While we tend to rebel. Most people do not want to be ruled: they do what they want to do, think that they alone can make changes: humanism they said: our differences will enlarge our idea of development, ignoring that absolute truth: human do bleed, and die, we are mere creature (artificial being), not the “supreme being”.

    You see: a woman afraid of their being a woman and even asks:
    “Why we’re not like man?” it is like saying: “Why we’re not created all man?” - a ridiculous question.

    How many parents tell their children that you, I, we all, will die?

    How many parents nowadays tell their children to be careful to choose friends? There is good and there is bad.

    Call me a conservative kid.

    Yes, that day will come when fewer children smiling facing the truth, as we see we all cry and blame eachother and make no repairs.

    KIMI WA DOU OMOU?

  21. Feb 17, 2008 at 1:06 pm badar

    The Greatest Love Of All (Whitney Houston), Heal The World (M. Jackson) dan sekali-kali tolong dengarkan pula Outlandish & Sami Yusuf _Try not to cry_ 4 Children of Adam.

    One for all, all for One !

  22. Feb 21, 2008 at 1:15 pm SIHOMBING

    KAMI BELIEVE ANGIN OF CHANGE BERTIUP IN INDONESIA

  23. Feb 23, 2008 at 2:29 pm BIMO

    selain cantik, mbak Dian ternyata berhati baik.

    Berbahagialah orang yang lemah lembut,
    karena merekalah yang memiliki bumi.

    ato Survival Of the Fittest ?

  24. Feb 23, 2008 at 2:32 pm BIMO

    bukannya memang dunia ini bukan milik kita?
    jika kita beruntung, kita bisa membawa pulang sedikit gambar dan kenangan manis bersama kita

  25. Feb 26, 2008 at 6:22 am joozu

    Hah? miss dian si manusia biasa tapi calon dosen filsafat bertampang artis itu udah punya blog? aku jadi pengen ngoceh di blognya.

    izinkan aku ngoceh dikit gak papa miss? gak papa ya? gak papa.

    gini miss, biasanya, pada awalnya para blogger (baik yang lumayan cerdas banget kaya kamu atau yang biasa-biasa aja) cendrung terserang syndrom hyper-posting (sebut aja gitu) alias sangat-rajin-banget-sekali buat ngisi posting.

    Akibatnya, kualitas posting cendrung menurun, baik kualitas pesan (materi) maupun kesannya (cara penyampaian) sehingga pada titik tertentu (jika syndrom ini terus berkelanjutan) para pembaca akan jenuh dan memberi stigma buruk pada blog tersebut, beserta pemiliknya.

    nah, kalo pemiliknya bukan public figure, gak masalah. Tapi jika pemilik blog itu adalah public figure, maka popularitasnya akan berkurang. Aku pikir, miss dian adalah public figure, jadi..yaa gitu deh.

    thanks buat izin ngocehnya yo. I’m a true Fan of Cinta ^ _ ^ V

  26. Feb 29, 2008 at 11:57 am Ismail Al Anshori

    “It takes a whole village (or town?) to raise a child” India’s proverb,,
    dan ada juga kata2 si Bart Simpson ke tetangganya : “Sir, You create a monster. So you don’t deserve to complain if they (man’s children) messed up your life”,,

    sblmnya kenalin, gw ismail,, asli jawa(?) trus kul di bandung lalu gawe d jkt,, oia, gw jg temen dktnya salah satu sepupu loe yg kul di bdg (woke, ini ga penting), hehe,,

    gatau harus ngomong apa, yg pasti gw setuju ma semua artikel dan komen yang udah ditulis di atas,,
    memang ada bhuanyyakk sekali orang yang mencoba mencurahkan pikiran dan mencoba mencari ide untuk pendidikan anak, secara memang kelangsungan dunia ini di tangan mereka,,

    sekedar sharing, kebetulan gw dan temen2 punya kegiatan mengajar d sebuah SD d jkt, mencoba sedikit (sedikit sekali sebenernya) menjawab masalah ini, akan tetapi kita sebenernya punya visi (cieee.. pake kata “visi”, “keinginan” mungkin kata yang lebih tepat) dan mimpi yang jauh ke depan,,

    kalau sempat silakan mampir sebentar ke http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/

    masih ada kok anak2 jkt yang peduli,, siapa tau loe tertarik dan bahkan mau ikut berkontribusi,,

    best regards,, :)

  27. Mar 1, 2008 at 1:32 pm Adi

    Wah, jaman udah berubah, jeng! Hari gini maen benteng? gobaksodor? bekel? congklak? tak umpet? D’oh!

    Sbg ganti mainan tradisional, anak-anak jaman sekarang mainnya DS ato PSP di wifi. Sbg ganti nyalin catatan di papan tulis, mahasiswa bawa laptop.

    Change is most certain… (I miss my tak umpet years, though =_(

  28. Mar 12, 2008 at 6:49 pm premancirendeu

    masih inget masa2 itu yah…( flashback ) masih inget juga ga ya kira2 ama aku (mat angin)

  29. Mar 15, 2008 at 11:36 pm premancirendeu

    wah kapan main ke cirendeu lagi nih

  30. Mar 16, 2008 at 7:59 am Ru

    Douhhhh////
    aku untungnya nggak suka nge-game….secara aku anak ‘ndeso’
    Tapi kalo internet…huuhhiieehue…menggila,,,,;)) itupun semenjak kuliah
    Unfortunately, aku malah suka movie….
    Btw,.ada movie yang bisa direkomendasikan untuk ku…ntar tak rekomendasikan ke temen2ku…..movienya yang ngedidik atau yang penuh inspirasi,,,,

  31. Mar 18, 2008 at 3:04 pm premancirendeu

    trus kalo tayangan sinetron yang nampilin bintang yang masih “anak2″ tapi berperan jadi orang dewasa lengkap dengan segala konflik roman najis itu gimana? mendidik ga? yg nonton sinetron kan kalo ga ibu2 ya anak2 atau ibu dengan anaknya nonton bareng
    keeereeennnn………………

  32. Mar 19, 2008 at 11:27 am oci

    i agree with u..
    because that what i want happen in my life…
    capek gw blajar mlu..hha

    hppy b’day ndek..hhe..tlat ya..

  33. Apr 17, 2008 at 2:18 am Bijirin

    Tadi coba post tapi kayaknya error, jadi saya tulis lagi. Kalau jadinya dobel delete saja salah satu. Topik mengenai anak memang menarik. Saya dan istri mengajari anak saya untuk berani bicara mengungkapkan pendapat. Hasilnya impresif menurut kita, anak saya sekarang 5 tahun bisa ngajak ngobrol dengan orang dewasa sekalipun. Hal ini justru dipandang aneh oleh para tetangga, tapi itulah tantangannya. Hal lain, saya dan istri juga ngajari mainan jaman dulu seperti halma, ludo, ular tangga, dsb., cuma susahnya teman-teman sepermainannya tidak bisa mainan tsb. Mereka lebih fasih bermain video games dsb. Seru emang…

  34. Apr 22, 2008 at 2:52 pm oka

    yap…i think education is very important. tp gimana bisa APBN hanya memberi jatah 20% saja untuk pendidikan. Guru gajinya kecil, boro2 mau ngajar dengan baik…lha wong bsk blm tentu makan. India walaupun banyak masyarakatnya yg miskin, harga buku murah bahkan gratis..wajar saja mereka punya nuklir. G nyambung yak??hehehehe katanya siy kalo anak2 kebanyakan maen game mereka akan menjadi individu yang egois, soliter, g mudah bergaul. Banyak juga game yang menyajikan kekerasan yg tidak mungkin akan mereka tiru….
    Btw happy earth day to you all

  35. Apr 22, 2008 at 2:52 pm oka

    yap…i think education is very important. tp gimana bisa APBN hanya memberi jatah 20% saja untuk pendidikan. Guru gajinya kecil, boro2 mau ngajar dengan baik…lha wong bsk blm tentu makan. India walaupun banyak masyarakatnya yg miskin, harga buku murah bahkan gratis..wajar saja mereka punya nuklir. G nyambung yak??hehehehe katanya siy kalo anak2 kebanyakan maen game mereka akan menjadi individu yang egois, soliter, g mudah bergaul. Banyak juga game yang menyajikan kekerasan yg mungkin akan mereka tiru….
    Btw happy earth day to you all

  36. Jun 14, 2008 at 9:28 am indigoindonesia.com

    Games and internet tidak selalu negatif banget asal si anak dapat memilah-milah dan mengatur waktunya.
    Sebetulnya disinilah butuh peran aktif orangtua. Untuk mengajari dan membimbing mereka.
    Masalahnya orangtua sekarang sudah terlalu pusing dan sibuk dengan urusan bisnis dan rumah tangga. Supaya anak diam dirumah tidak kemana2 dibelikan segala sesuatu dituruti segala kemauannya.
    Coba kalo orangtua mau berperan aktif sedikit saja… untuk menemani mereka dalam bermain game, dan membimbing serta mengajari mereka tentang informasi yang bagus pada internet…gua rasa hasilnya akan beda.
    Children now are not educated = tapi ingat mereka orang2 pintar
    depressed, and confused. = ya iyalah… segala informasi dipaksa masuk ke otak mereka tanpa ada saringan dan penjelasan.

    Jadi inget ama nenek yahh.. dian… kalo nggak karena nenek mungkin elo jadi generasi depressed, and confused juga yah :p

    Anda tahu tentang anak indigo ..? coba jalan-jalan ke

  37. Jun 25, 2008 at 8:40 pm Sugeng

    Mbak Dian, terimakasih utk jejak-jejak LOVE sebagai OASE kehidupan di sekitar kita sekarang ini. Saya sepakat bahwa Children adalah The Future Actor of Change. Angin perubahan itu ada pada puisi berikut:

    Children Learn What They Live
    Dorothy Law Notle, Ph.D.

    Bila anak hidup di bawah kritik tajam dan selalu dicela, ia belajar menghakimi dan menuduh
    Bila anak selalu hidup dalam permusuhan, ia belajar jadi tukang berkelahi dan berontak
    Bila anak selalu diejek, ia belajar jadi pemalu
    Bila anak selalu dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
    Sebaliknya
    Bila anak hidup dalam toleransi, ia belajar bersabar
    Bila anak selalu diberi dorongan, ia belajr percaya diri
    Bila anak selalu dihargai dan hidup dalam pujian, ia belajar untuk menghargai
    Bila anak selalu diperlakukan semestinya, ia belajar jadi adil
    Bila anak hidup dalam kebijaksanaan, ia belajar menegakkan keadilan
    Bila anak selalu merasa aman, ia belajar punya kepercayaan
    Bila anak selalu diterima dengan hati terbuka dalam persahabatan dan keakraban, ia belajar memberi kedamaian dalam dunia

  38. Jul 7, 2008 at 11:52 pm volksman

    heey girl, what’up? what’s new? it’s been a while since u acted on film..can’t wait to see for the next….
    i happen to be a teacher n yess gua definitely agree about your comments regarding the issue of children..teachers themselves,goosh…i dont know how to say it,it’s just most of them forgot what they’re capable in..they just tell..tell..n another tell but forgetting the essential core of teaching is to teach…we can see the difference in oxford dictionary bout terminology of teach n tell..contoh aje dech bout kurikulum hmm..can u imagine the standarization of education which i think all of them are good even excelent,so the problem is the implementation of teaching by teachers…hhuuhh sucks…sometimes i think on give up trying to do best for children,as we all now “the next generation” to fulfil this country..correct?? god damn is totally correct..but seeing people like u and few who still aware n encourage me..no way i give on trying pokoke Ciayooo dech…”Dead Poets Society” book or film,does it ring a bell?? i bet u do…yup,one of my favourite..robin wiliam pula hehe…”patch adams” all right…
    to be frankly, i like u most on “pasir berbisik” it’s well educated film….applause for u non…you know what,gw punya t-shirt yg bertuliskan “birth,school,work,marry,death.” would u like to guess, what is the missing word that we can add on the phrase above?? so our life can be more useful to us and people around us……am i being selfish and idealism?? if…u know,orang2 suka bilang, “udah..lah, jalanin aja hidup looh apa adanya..jgn terlalu idealis dgn keinginan kita,yaah..yaah,cari duit aja yg banyak,bahagiain keluarga,get married,punya everything and kehidupan lengkap sudah..” kl gw bilang ooh man,what a wasted life!!! oops sorry neh,kaya curhat gt..pheeuy…the bottom line I LOVE THIS COUNTRY SO MUCH…n wanna da something to heal this country…people nowdays are very hard to change their habits,bukannya ga bisa loh tp susaaah bangetss..so i decided dr children inilah, i plant seeds of education,thoughts,paradigm,objective point of view…less stereotip n prejudice..

    btw, have u read “Eat, Love n Pray” by Elizabeth Gilbert…referensi aje since u like reading so much n film starred by John ..n nanya donk non, “the science of sleep” ada ga dvdnya yg disini?? soalnya seeing ur references of film..woow,fascinating awesome…trus terang people like to critize bout pilihan film2 gw gitu haha..such as: being john malkovich..seruu tuuh ada lantai 7 1/2 ..anjrot nice idea..,adaptation..si n.cage dapat banget peraninnya..eternal sunshine..oks deeh j.carrey nyoba different role..totally success..but as you can see,people here less appreciate to this kind of genre..but heey, looking forward to see u play the role…gw pasti tonton deeh n buy the dvd..u bet i am…keep th faith yaak..

  39. Aug 12, 2008 at 2:13 am denni

    sorry aku gak ngefans sama kamu, tapi… kadang aku gak bisa tidur mengingatmu… he9x (biasa fans berat!. slamat yach ^_^)
    kadang aku berfikir kekuatan dan kekuasaan tunggal itu baik.
    kadang aku berfikir membagi kekuatan dan kekuasaan tunggal itu baik.

    kadang aku berfikir kekuatan dan kekuasaan tunggal itu buruk.
    kadang aku berfikir membagi kekuatan dan kekuasaan tunggal itu buruk.

    dimana secara esensi memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik pada kita semua.

    mungkin perlu hasil riset karena kita tidak bisa memandang dalam satu sudut pandang dan menggeneralisir apa yang ada dengan simpulan yang mungkin belum cukup ilmiah.

    tidak kah kita melihat kita tidak punya parameter kuat mengenai unsur kekerasan yang menghasilkan output yang tidak tentu sama dengan persepsi kita.

    pada study agresifitas ada benarnya, tapi untuk kacamata Indonesia, mungkin banyak penyebab biasanya kita melihat kontrol keluarga dan masyarakat sosial.

    kalo kita mengatakan berusaha menekan:
    bukankah kebijakan ekonomi berdampak pada keadaan psikologis masyarakatnya.

    diluar itu apa benar tekanan yang kita lakukan tepat, bagaimana “mereka” (anak-anak) mensubtitusikan pada suatu hal yang baru bahkan mungkin lebih memunculkan dampak yang lebih besar.

    lagian gak mungkin donk! kita memotong satu generasi yang “kita tangkap hari ini”

    salam (?)

Halaman: 1 2 » Show All

Post a comment