January 23rd, 2008

Saya Percaya…

Heheheeeeehh…, sebelum bca tulisan ini, jangan kaget yah…  Waktu itu ini aku tulis pas baru pulang dari sebuah diskusi yang sangat intens tentang keadaan bangsa kita sekarang. Kadang kita malah lebih banyak paniknya, bahkan putus asa menuju hopeless kalo bener2 menyadari banyak banget kurangnya. Akhirnya, malam itu, badan saya, mata saya menolak untuk terpejam, dan akhirnya saya nyalain komputer lagi. Jadilah malam itu saya tidur jam 4 pagi. Walaupun besoknya ada pemotretan cover majalah jam 9 pagi, saya bener-bener nggak bisa nahan diri untuk ‘mencurahkan isi hatikuh’ (tsaah….) seada-adanya dalam word document! hueheheheh.. abis waktu itu gue lagi geregetan buanget!! jadi, temen-temen maap yak kalo rada berlebihan…. uhuk uhuk!!

Tulisannya waktu itu begini:

Saya percaya akan masa depan Indonesia yang lebih baik. Dan masa depan kita adalah generasi muda. Saya punya impian generasi muda ini benar-benar menyadari bahwa merekalah masa depan Indonesia, dan bahwa mereka dapat menentukan sendiri takdir mereka. Impian saya generasi muda Indonesia adalah individu-individu yang berani berpikir, berani belajar, dan yang paling penting berani memproduksi pikiran mereka sendiri. Karena mereka memiliki kebebasan itu.

Kebebasan berpikir adalah bentuk kemerdekaan yang dahsyat yang pernah dimiliki oleh umat manusia.

Tidak akan pernah ada satu orang pun yang mampu menguasai pikiran kita selain diri kita sendiri. Orang lain selalu bisa mencoba mempengaruhi pikiran kita, tetapi tetap kitalah yang bisa memperbolehkannya mengubah cara pikir kita atau pun tidak.

Marilah kita bersama-sama menghormati dan mensyukuri daya pikir dan akal sehat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita dengan satu cara yaitu: menggunakannya.

Semoga berpikir akan menjadi trend yang akan menjadi gaya hidup baru generasi muda Indonesia. Dan pikiran akan menjadi defenisi baru bangsa Indonesia.

Namun untuk dapat bebas berpikir, kita harus memiliki akses pada segala pengetahuan yang ada. Maka kebebasan untuk memperoleh informasi juga merupakan sesuatu yang asasi. Karena apabila mata kita tertutup, kita tidak akan memikirkan hal hal yang relevan dan aktual. Maka jangan sampai kita menjadi bangsa yang tutup mata.

There are 51 comment for this entry.

  1. Jan 28, 2008 at 3:00 pm Ben

    Kadang-kadang kebebasan berpikir - secara sadar atau tidak - terbatasi oleh tradisi, adat-istiadat, budaya, dan atau kepercayaan yang dianut seseorang atau masyarakat setempat, yang kebetulan banyak terjadi di negeri kita ini… itu yang menyedihkan… :(

  2. Jan 28, 2008 at 6:31 pm Dian

    Iya,… memang…., makanya kita jangan stop berpikir..!!! Suatu hari pasti semuanya bisa berubah.

  3. Jan 30, 2008 at 6:07 pm Anggara

    apa hanya dengan berpikir semua akan berubah?

  4. Jan 30, 2008 at 6:10 pm chiw

    semoga tak hanya menjadi ‘kepercayaan’ saja.

    kepercayaan tanpa tindakan juga hanya akan jadi wacana dan wacana kan? ;)

  5. Jan 30, 2008 at 6:11 pm chiw

    eiya Jenk… saran saja… komentarnya mbok ya ndak usah dimoderasi…

    :D

    ndak nyaman neh rasanya…

  6. Jan 30, 2008 at 6:56 pm antobilang

    serius neh, dian beneraaaan?
    *salaman pake peluk*

  7. Jan 30, 2008 at 7:19 pm Naif Al'as

    Eh tapi, kata om gue (bukan kata gue!). Ini negeri, walaupun seandainya semua orangnya gak ada. Terus muncul generasi baru, dari nol, tetep aja balik lagi seperti ini. Kata om gue, ini terkait masalah mental.
    So, yang harus dibenahin ya masalah mental.

  8. Jan 30, 2008 at 8:07 pm nien

    …dan yang paling penting berani memproduksi pikiran mereka sendiri.

    karena tanpa implementasi apalah artinya… :)

  9. Jan 30, 2008 at 8:15 pm arie

    @anggara, tentu yang dimaksud berpikir tsb juga dibarengi tindakan, tindakan yg memang berbarengan dengan pikiran optimis bahwa kita akan maju.

  10. Jan 30, 2008 at 8:53 pm oculy

    Ehm

    Saya harap para entertainer bisa benar-benar menajdi ujung tombak untuk ini. Saya melihat entertainer merupakan salah satu penyebab mental yang kurang bagus itu soalnya mereka memberi contoh yang gak-gak ma banyak orang. Dan akhirnya banyak orang termasuk anak2 mempunyai mental ****

  11. Jan 30, 2008 at 10:09 pm dudi

    semua hal yang ada di muka bumi ini awalnya adalah dari daya pikir. baru kemudian turun ke dunia nyata. tapi, kalo semuanya berpikir tanpa ada yang mengerjakan hasilnya juga sama aja boong

  12. Jan 30, 2008 at 10:39 pm Indra

    Assalamualaikum Wr Wb. Salam kenal ya, Tulisannya sungguh menarik dan saya rasa tepat, menurut saya pun suatu sikap menutup diri tidak mendukung kebebasan berpikir secara sehat, bagaimanapun relevansi dan aktualisasi terhadap lingkungan harus diperhatikan demi terarahnya daya pikir tersebut. Wassalam.

  13. Jan 31, 2008 at 3:49 am leksa

    paragraph terakhir seharusnya diatur dengan baik oleh yang berwenang..
    sementara proses berpikir dikalangan muda dibangun dari pendidikan kita, dan lingkungan tentunya…

    *ahhh…seandainya kombinasi ini bisa berjalan sempurna..

  14. Feb 3, 2008 at 10:28 pm luci

    wah kaya so hok gie nih ceritanya, heh heh, aktivis….

  15. Feb 4, 2008 at 7:20 am didut

    think globally act locally ….

    sepertinya kaum muda kita juga banyak yang terlena dengan informasi yang terbentang di hadapan mereka sehingga (seringkali) terlupa untuk berbuat sesuatu untuk memperbaikinya

  16. Feb 4, 2008 at 12:47 pm aang

    yup, kita gunakan akal ini berpikir dengan mendalam kebesaran Ilahi dan tugas kita sebaga khalifah di bumi ini. kemudian membuat plan action dan do the real action even it starts from the very tiny steps. yang penting berbuat perubahan mulai dari hal yang paling kecil, dari sekarang, dan dari diri sendiri.

    Semangat!

  17. Feb 5, 2008 at 12:11 pm Adhi P.

    Salam kenal!
    Diawali dengan berpikir, dilanjutkan dengan berencana, diwujudkan dengan bertindak…

  18. Feb 5, 2008 at 5:25 pm Gen

    Positif atau negatif, perenungan mampu menciptakan ketajaman pikiran yang ekstrim. Berikan diri Anda waktu, misalnya satu jam sehari atau 1 hari seminggu untuk sedikit menjauhkan diri dari dunia sehari-hari. Lalu Anda bisa bebas mengembangkan imajinasi serta impian-impian besar Anda. Anda juga bisa mengevaluasi hidup Anda. Apa yang sedang Anda lakukan dan akan kemana tujuan hidup Anda. Siapa tahu Anda akan mendapat inspirasi-inspirasi besar.

    Conversation enriches the understanding, but solitude, is the school of genius”.
    Edward Gibbon

  19. Feb 5, 2008 at 5:32 pm Gen

    Positif atau negatif, perenungan mampu menciptakan ketajaman pikiran yang ekstrim.

    Conversation enriches the understanding, but solitude, is the school of genius”.
    Edward Gibbon

    Cogito Ergo Sum, “aku berpikir, maka aku ada”
    “In order to improve the mind, we ought less learn than to contemplate”
    Rene Descartes

  20. Feb 5, 2008 at 8:25 pm Haikal

    Saya juga percaya…

    Jika anak-anak mudalah yang akan merubah nasib peri-kehidupan bangsa kita…

    Seperti pernah sejarah ceritakan pada kita semua…

    Sebaliknya anak-anak muda mesti tambah percaya diri! Ya gak?

  21. Feb 6, 2008 at 11:49 am DM

    Aku percaya dan sepakat. Namun individu-individu yang berani berpikir, berani belajar, dan berani memproduksi pikiran sendiri, tidaklah cukup. Karena yang mereka hasilkan baru produk pikiran pribadi. Personal.

    Masa depan Indonesia sebagai sebuah nasion memerlukan karakter secara kolektif. Adalah betul bahwa individu yang berani berpikir, berani belajar, serta berani memproduksi pikiran sendiri dapat membetuk karakter.

    Mesti ada “kesepakatan” secara koletif: bakal seperti apa wajah Indonesia sebagai sebuah nasion. Tidak diintrepretasikan secara sambil lalu oleh individu-individu, betapapun berkarakter ;)

    Salam.

  22. Feb 6, 2008 at 3:01 pm ecca

    wah blog nya baru .. welcome di dunia maya mbakk ahahakz

  23. Feb 6, 2008 at 4:54 pm yanworks

    Setuju mbak, beginilah tulisan seorang Dian Sastrowardoyo S.Fil. (bener gak?)

  24. Feb 7, 2008 at 4:12 am Asmaraning

    geregetan sama siapa sih…………..tenang,jangan keki dulu,coba buang semua paham dan ideal ini itu supaya puteri bisa sungguh mengerti bedanya antara AKU MENGGUNAKAN PIKIRANKU UNTUK BERPIKIR SEWAKTU AKU MAU BERPIKIR dengan PIKIRANKU MENGGUNAKAN AKU UNTUK SENANTIASA TERUS BERPIKIR SEKALIPUN AKU MAU TIDUR he..he…he…..jangan ngadat yah :)………………pas geregetan nti di potret yah,…pengen liat geregetannya kaya apa sih sampe segitunya…. doooooooooo…………
    btw,emang sih putri,Masa depan memang ada ditangan kita yang muda2 dan tergantung kita sekarang ini yang muda2 berani bertindak dan melakukan apa sekarang ini bagi IBU KITA,prtiwi,dan bagi sesama kita,Manusia!!.Dan tidaklah salah jika dikatakan masadepan bangsa ini juga tertulis di garis telapak tangan mereka ….anak2 kecil!!! Karenanya memang ada baiknya, jika putri sungguh peduli,sungguh cinta,sungguh sayang kepada bangsa ini, didepan nanti,kalo ada “jalannya”, buat sebuah YAYASAN dalam bidang pendidikan dan kebudayaan bagi mereka2,terutama anak2 kecil yang terbuang dan dibuang dari rahim keangkuhan dunia dan oleh kemunafikan jaman ini!!!.Nama YAYASANNYA itu YAYASAN CAHAYA PARAMITHA, hehehehe………..Sungguh2 “aku percaya” dari jempol kaki sampai ubun2?

  25. Feb 7, 2008 at 10:39 am malaikat cacat

    REVOLUSI YANG INDAH
    : kepada generasi muda

    Mari menari bersama-sama di angkasa
    Sebagai kerumunan kupu-kupu pengunjuk rasa
    Kepak serentak sayap mungil kita dengan gemulai
    Menghembuskan angin perubahan yang merangsang badai

    -Sam Haidy-

    KEPAK SAYAP KUPU-KUPU REVOLUSIONER

    Konon, kepak sayap kupu-kupu kecil di hutan Amazon bisa menciptakan badai di Karibia. Prinsip yang mendasarinya: di balik ketidakteraturan ternyata ada pola-pola keteraturan. Teori ini betul-betul menjadi semacam inspirasi buatku.

    Sudah bukan rahasia lagi, belakangan ini anak-anak muda sepertiku ini dikecohkan oleh berbagai macam premis yang melumpuhkan imajinasi. Yang dilumpuhkan itu sebenarnya sangat krusial buat anak-anak muda: imajinasi revolusi sosial. Yang paling patut disalahkan atas menyebarnya wabah pembodohan massal ini ialah para ‘intelektual pesanan’, dengan proyek-proyek publikasi agenda-agenda pro-neoliberalisme. Untuk itu, aku dengan susah payah harus mencoba menerobos belantara ‘premis neolib’ dengan pisau-pisau analisis yang bisa menegakkan kembali imajinasi akan revolusi sosial. Untuk kemudian, menciptakan revolusi sosial itu di tengah-tengah masyarakat yang memang sudah lama terpenjara oleh proyek pemiskinan massal.

    Sekilas, revolusi sosial mirip seperti badai ketidakteraturan yang mengguncang tatanan sosial. Tapi begitukah ? Inilah kesalahan utama yang berpotensi menjauhkan anak-anak muda dari cita-cita revolusioner. Kesalahan ini bersumber dari skenario orbaisme, yaitu: menciptakan jarak selebar-lebarnya antara anak-anak muda dari permasalahan masyarakat di satu sisi, dan di sisi lain, dari teori-teori kerakyatan radikal. Akibatnya jelas, posisi anak-anak muda menjadi mengambang: tidak mengenal ketidakadilan struktural di tengah masyarakatnya dan tidak mengenal pisau-pisau analisis untuk memecahkan masalah -masalah ketimpangan sosial-budaya dan ekonomi-politik yang terjadi di sekelilingnya.

    Anak-anak muda digiring untuk hanya mengenal ‘masyarakat konsumtif’ di satu sisi, dan di sisi lain, teori-teori pro kapital dan pro pasar yang membenarkan praktik-praktik konsumsi ekstrem di sentra-sentra komersial. Skenario inilah yang kini dilanjutkan oleh kaum neo-orbais. Lokus dari skenario ini ialah: kampus, media massa, pusat perbelanjaan, tempat-tempat hiburan. Dan aku berada di tengah-tengah skenario ini pula.

    Revolusi adalah menciptakan. Tan Malaka, yang mengatakannya. Kalimat itu muncul sebagai produk kekecewaan terhadap ‘putch’ 1926 hasil skenario Prambanan oleh segelintir elit Partai Komunis Indonesia. Pemberontakan PKI itu gagal. Dan Tan Malaka kemudian menuliskan semacam brosus berjudul Massa Aksi untuk menegaskan arahan gerakan revolusioner pro-kemerdekaan di Indonesia.

    Revolusi adalah menciptakan. Aku menambahkannya, Revolusi adalah menciptakan pembaharuan secara radikal. Yang lama ditumbangkan, yang baru dibangun. Nah, proses penumbangan, pembongkaran, penghancuran sistemik inilah yang rupanya ditakutkan oleh anak-anak muda kebanyakan. Yang ditakutkan: proses destruksi berpotensi menimbulkan pertumpahan darah. Hal ini bisa dihilangkan, kalau imajinasi akan revolusi sosial itu sendiri sudah direvolusi terlebih dahulu.

    Seorang anak muda yang resah adalah kepompong, dan apabila berkumpul, anak-anak muda itu menjadi kupu-kupu, jika mereka bergerak bersama-sama, anak-anak muda menjadi kupu-kupu yang mengepak dengan indahnya. Nah, gerakan revolusioner adalah gerakan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya secara indah dan radikal.

    Imajinasi inilah yang seharusnya membayangi malam-malam sepi anak-anak muda. Imajinasi ini pula yang seharusnya memenuhi semangat anak-anak muda di pagi hari, disamping kicau burung yang merindukan hati itu.

    Gerakan revolusioner adalah gerakan terorganisir dan terencana. Gerakan ini direncanakan untuk menciptakan pembaharuan: sebuah revolusi sosial. Setiap kepakan dari kupu-kupu revolusioner adalah langkah-langkah taktis menuju tujuan strategis: menumbangkan tatanan lama.

    Pertumpahan darah bisa tidak terjadi, apabila gerakan revolusioner itu menempuh jalan-jalan demokratis seperti: memanfaatkan momen pemilu untuk menguasai parlemen (menciptakan partai revolusioner bersama-sama rakyat banyak yang sudah terkonsolidasi. Atau bisa juga melalui pemboikotan massal, atau mengepung sentra-sentra aparatus negara lalu mendesak diberlakukannya situasi revolusioner dengan mengambil alih pimpinan negara dan menggantikannya dengan pimpinan revolusioner.

    Setiap langkah taktis memang terkesan kecil dan jauh dari tujuan revolusi sosial: menciptakan tatanan baru. Tapi langkah kecil itu sebenarnya tidak menciptakan hasil yang kecil.

    Misalnya, langkah taktis untuk mengubah kurikulum pendidikan yang pro-pasar dan hanya mengukuhkan agenda-agenda neolib semata itu. Tujuan taktisnya ialah: menggantikan kurikulum ‘menara gading’ yang metodologinya berat dan ketinggalan jaman itu dengan kurikulum kontekstual kerakyatan yang metodologinya lebih ‘nyantai’ dan memberikan peluang bagi anak-anak muda untuk melarutkan dirinya di luar kampus untuk memahami permasalahan-permasalahan masyarakat.

    Selama ini, proses pelibatan sosial anak-anak muda di tengah-tengah permasalahan masyarakatnya justru terkena stereotip ‘kurang kerjaan’ oleh rezim pengetahuan neoliberalistik di kampus-kampus kita. Tujuan strategisnya ialah: mendekatkan anak-anak muda dengan permasalahan masyarakatnya hingga kemudian kekuatan anak-anak muda + massa rakyat ini bersama-sama menciptakan solusi revolusioner.
    Ini semua adalah kepak sayap kupu-kupu yang cantik.

    Mungkin, gerakan anak-anak muda di kampus-kampus terkesan sporadis, tapi sesungguhnya kepak sayap itu mengarah pada badai yang disusun dari keteraturan-keteraturan taktis. Revolusi sosial, siapa takut?

    -Tomy Ginting-

    (taken from fordis cybersastra)

  26. Feb 7, 2008 at 5:12 pm elclareano

    Saya sepakat dengan kebebasan berfikir yg membangun. Setuju dengan mas Daniel Mahendra, sebebas apapun engkau berpikir, saya tekankan, mohon utk tidak ahistoris.
    Dalam konteks pembangunan pemikiran keindonesiaan, kita semua (indonesian) perlu melihat (dengan jujur) lembaran2 sejarah negri ini bukan utk disesali tp utk kembali berpikir kedepan.
    Sangat susah sekali, bahkan mungkin sudah dilakukan banyak orang sebelumnya, mengorbankan banyak hal utk merubah paradigma berpikir anak bangsa. karena masalah utamanya ada pada kemauan kolektif yg dibangun dari inisiatif personal anak bangsa utk mampu bangkit dari setiap keterpurukan. sehingga, yg dapat dipikirkan bersama ialah; bagaimana memberikan stimulus kpd masyarakat kita utk merubah dirinya. merekalah yang harus mempunyai inisiatif ( menentukan sendiri perubahan) itu.

  27. Feb 8, 2008 at 9:55 pm Nilna

    Luar biasa! Energi yang terpancar dari tulisan Dian ini saya rasakan benar-benar keluar dari gumpalan jiwa yang resah dan “geram” dengan kondisi bangsa.

    Ya, kita memang harus merdeka dalam berpikir, berani menentukan takdir sendiri, tapi jangan lupa, kita juga harus berani mengambil tanggungjawab, ya ‘kan Dian? salam

  28. Feb 8, 2008 at 11:54 pm malaikat cacat

    Let’s make changes together, as little as possible….

  29. Feb 10, 2008 at 7:50 pm Kasturi Kijang

    selama ini orang banyak merasa bahwa kebebasan berpikir selalu dibatasi atau bentrok dgn keyakinan, agama, hukum, tradisi, budaya, dll….S A L A H B E S A R ! ! ! !

    Satu-satunya yg membatasi kebebasan berpikir manusia adalah… pikiran-pikiran dr manusia yg lain.

    kebebasan berpikir ‘yg bener2 sempurna 100%’ tak akan pernah tercapai, selama kita msh hidup bareng dgn miliaran manusia d bumi ini. tanpa ‘di bebas2in’ toh manusia emang udah dr sononya bebas2 aja berpikir. drpd ribut2 ttg ‘kebebasan berpikir’ (yg mustahil bs kita miliki), mendingan kita mikir ttg hal apa yg bagus untuk kita pikirin. jgn mikirin bentroknya, tp gimana caranya pikiran kita bisa maching sama pikiran org lain. menjadi unik & spesial itu gak melulu harus jadi ‘beda’ sm org2 laen.
    trus ada yg bilang “percuma mikir klo gak ada tindakan”…SALAH BESAR!!!!!! (LAGI)
    berpikir itu justru adalah sebuah bentuk dari semua bentuk tindakan.
    orang yg tdk bertindak adlh org yg tidak berpikir…org yg berpikir adlh org yg sudah bertindak.

    jangan pikirin masa depan, biarkan anak cucu kita yg akan mikirin bagaimana cara mengatasinya. pikirin aja bagaimana merubah masa kini agar lebih baik. tiap zaman punya pemikirnya sendiri2. mikirin masa depan itu merupakan tindakan egois. mikirin masa lalu ujung2nya malah skeptis. Pikirkan apa yg bisa lakukan untuk MASA KINI!!!!

  30. Feb 10, 2008 at 9:42 pm Vitri

    Berpikir itu penting..tentunya berpikir ke arah perubahan yang lebih baik. Dan hal yang lebih penting lagi, merealisasikan pikiran tersebut dalam bentuk tindakan. You know, “the power of action will make a change”

  31. Feb 12, 2008 at 4:43 pm Josh

    ‘we should all give up’ (on the world) and superfocus, Look Great!

  32. Feb 15, 2008 at 3:23 pm badar

    namun saya terkadang bingung dengan jalan pemikiran saudari untuk berjuang keras meniadakan badan sensor film ? apakah ini untuk kebaikan masa depan “the children” sebagaimana yang anda harapkan ?
    Mungkin bisa jadi saya belum memahami maksud saudari yang terdalam untuk meniadakan badan sensor film, namun menurut hemat saya dengan pengalaman saudari menjadi aktris dan cita-cita saudari untuk menjadi “sutradara”, nampaknya ada yangak perlu dijelaskan lebih lanjut aspirasi saudari. Karena jika kita belum mampu mengayomi domba-domba kecil dari terkaman serigala, maka janganlah pula kita malah dengan sukarela mengirimkan mereka langsung ke sarangnya. Bagaimana saudariku ?

  33. Feb 16, 2008 at 8:44 pm kudiarto21

    kenapa kita selalu berjibaku dengan mendefinisikan indonesia baru?

    Berebut seolah anak kecil bermaen kelereng dihalaman. dan kenapa kita harus saling melukai. Kenapa kita tidak pernah memaknai bangsa ini apa adanya, sedikit membuka mata dan hati. bergandeng tangan.

    Kebebasan berfikir, kenapa tidak?. Kebebasan bicara, kenapa tidak?.
    toh, semuanya sudah ada aturan maen yang jelas dan tertulis pula,
    nah, masalahnya mau tidak kita melaksanakan semua itu.

    Yang kita perlukan : kebersamaan+kesadaran untuk membangun, itu saja sudah cukup.

    Yah, realita memang kadang sangat menyakitkan, mao gmana lagi, inilah hidup!.

    *salamMerdeka!

  34. Feb 17, 2008 at 12:24 pm An.S

    Semangat pemuda-pemudi Indonesia yang sedang “ON” untuk menuju Indonesia yang lebih baik sebenarnya ada pada semua orang (yang pernah muda)! semua orang ingin keadaan sebuah negara/tempat bernaung untuk menjadi nyaman, senyaman ‘bayi dalam buaian’! pasti itu hal yang diinginkan sebagian besar orang!
    Kalau saya mengelompokkan “orang yang punya semangat untuk perbaikan” itu menjadi 3 macam:
    1. Menggantungkan perubahan itu kepada orang lain (dengan sikap yang sedikit masa bodoh)
    2. hanya berpikir, merencanakan, “membuat kompor” agar orang lain mau menjalankan perubahahan (bukan perubahan ding hi..hi..hi.. perbaikan) agar gak usah mengeluarkan tenaga banyak . . .
    3. menjadi ujung tombak (nggak pake mentari . . . . . ups bukan iklan lho . . .wa ka ka ka . . .) dari ‘perjuangan’ untuk perbaikan.
    ketiganya ini sebenernya berguna juga lho . . . .
    dari nomer 1 : suka memberi, kenapa tidak? karena dia memberikan “pahala” dan ketenaran yang “harusnya” (kok harusnya? mmmmmm apa kata lebih cocok ya? kemungkinan? bisa jadi? wat efer!!!) untuk dia jadi milik orang lain, baek banget gak nih orang? kamu mau juga jadi orang baek?

    nomer 2 : ini lebih baek lagi, memberi jalan orang mencapai ketenaran, “pahala” yang kuasa,paling nnggak ntar klo jadi yang kedua ini kecipratan sedikit persenan dah . . . .

    neh yang ke tiga, wah bagus banget “anda” (ntar tak sebut beliau kalo dah tenar) we he he he, patut dapat jempol (maap baru jempol!), si nomer 3 ini bisa dan sangat mungkin membagi kebaikan untuk semua orang . . . nah baek banget kan? TApi banyak juga godaannya, kayak di kasih permen, es krim, gula-gula . . . . (nah gue ntar moga2 bisa kecipratan persenan we ke ke ke)

    dari tiga itu mbak jadi yang mana? (paleng nggak saya dah jadi kompor nih!!!!)

    nah, berpikir itu bebas dan sangat bebas . . . perjuangan mengaplikasikan pikiran itu sangat banyak jalannya . . . namun ada rambu2 dalam menjalankan perjuangan itu . . .
    nggak semua bisa jadi inget pelajaran SD dulu, manusia itu punya hak dan kewajiban . . . dia bisa mendapatkan hak sepuas puasnya, namun terbentur dengan hak orang lain, dan kewajibannya terhadap orang lain (gak bisa semena-mena istilahnya)

    agama, adat sitiadat, undang-undang, dan segala macam tetek bengek aturan itu bukan untuk membuat kita terkurung, tetapi membuat bagaimana kita bisa menggunakan pikiran kita “sebebas-bebasnya” dan “se-kreatif-kreatifnya” dalam menghadapi dunia yang kompleks itu. kalo ada yang bilang gak bisa berpikir dengan bebas, lha buat apa Tuhan memberikan “CIPTA” “RASA”, dan “KARSA” klo gak digunakan . . . .

    weleh . . . . . . . . . gitu deh, masa gitu dong! wa ka ka ka . . .
    ntar laen kali d sambung lagi ya . . .

  35. Feb 18, 2008 at 6:55 am teenage backseat

    untuk mendengar wacana dari seorang populis dgn sgala instrumen/obstacle hidupnya yang sedikit bisa terbayang.

    saya senang mendengarnya. nice blog indeed

  36. Feb 18, 2008 at 12:47 pm vishnu

    Seseorang dapat menjadi komponen yang sangat penting dalam kelompok, tetapi ada yang tidak bisa bekerja kelompok.

  37. Feb 20, 2008 at 10:56 am kiaw harahap

    to think is to do, ndek….
    still…we have to think first..setuju deh..salam

  38. Feb 21, 2008 at 5:01 am onal bharacatie

    saya hanya berharap kepada kaum muda untuk bisa berfikir dan menciptakan suatu peradaban yang modern tapi tetap memperhatikan kaidah2 transisi peradaban yang baik. jangan pernah percaya kepada kata “orang jenius seperti opa sir isaac newton, om albert einstein, dan kakak steven hokkie hanya akan lahir 1 setiap 100thn” karena kita2 ini yang jenius itu….
    saat sekarang jadi seorang pemikir itu gak harus yang berkepala botak kok..
    :-)

  39. Feb 23, 2008 at 10:48 am Willy Sutopo

    Common sense and logic have become a rarity for today’s generation

  40. Feb 25, 2008 at 4:34 pm Zy'

    Di,
    kebebasan berfikir berasal dari kebebasan hati & pikiran kita untuk menciptkan “tempat penerimaan dan pembuangan kontemplasi secara komunal…… ”

    Lv ur posts…Great…great…. huhuhuhu…. ;P

Halaman: 1 2 » Show All

Post a comment